Itu berarti, untuk membawa barang dari satu tempat ke tempat lain dibutuhkan 2 hingga 2,5 kali biaya yang lebih mahal. Akibatnya, barang yang dijual di Indonesia lebih mahal dibandingkan negara lain.
Atas alasan itu, kata Jokowi, pemerintah gencar membangun infrastruktur.
"Kita ingin daya saing kita lebih baik dari negara lain.
Global competitiveness kita harus diperbaiki, tahun ini cukup lumayan meloncat dari (peringkat) 41 ke 36 dari 137 negara," jelasnya ketika memberikan orasi pada Dies Natalis ke-60 Universitas Diponegoro di Semarang, Jawa Tengah, Selasa (17/10).
Jokowi menjabarkan alasan dia selalu berbicara mengenai infrastruktur. Kata dia, selain Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang fokus pada infrastruktur, alasan lainnya adalah untuk mengejar ketertinggalan pembangunan infrastruktur. Bahkan, anggaran untuk infrastruktur sudah disiapkan dan ditingkatkan pemerintah dari Rp177 triliun pada tahun 2014 menjadi Rp401 triliun pada tahun 2017.
Dari sejumlah infrastruktur yang dibangun pemerintah, satunya adalah pelabuhan. Mulai dari Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, Kuala Tanjung di Sumatra Utara, dan Makassar New Port di Sulawesi Selatan. Rencananya tahun depan pemerintah juga akan mulai pembangunan pelabuhan di Sorong, Papua.
"Karena negara kita negara kepulauan, (pelabuhan) basis pondasi kemaritiman merupakan sebuah keharusan,"katanya.
Selain itu, pemerintah juga fokus pada pembangunan bandar udara dan pembangkit listrik.
"Kalau tidak, daya saing kita akan tertinggal. Sekali lagi ini menyangkut daya saing kita yang tertinggal dengan negara lain," tutupnya.
[ian]
BERITA TERKAIT: