"Saya hadir dalam rapat pemilihan Ade Komaruddin menggantikan saudara Setya Novanto (sebagai Ketua DPR), tidak ada hal seperti itu," kata Ahmad Noor dalam talkshow bertema "Main Jegal Caketum Golkar" di salah satu stasiun televisi swasta, Minggu (7/2) petang.
Sebelumnya kabar bahwa Akom pernah berjanji tak akan maju sebagai calon ketua umum Golkar disampaikan Ridwan Bae. Ketua Paguyuban DPD I Golkar itu menyatakan jika maju Akom akan meninggalkan posisinya sebagai ketua DPR.
Ahmad Noor mengakui memang ada persyaratan yang disepakati Akom, tetapi apa yang disepakati itu bukan seperti yang disampaikan Ridwan Bae.
"Hal yang dipersyaratkan adalah (Akom) tidak boleh mengambil inisiatif melaksanakan Munaslub," katanya.
Lebih lanjut Ahmad Noor mengatakan dirinya sudah meminta penjelasan Ridwan Bae atas pernyataannya itu. Ridwan Bae menjelaskan pernyataannya dikutip salah oleh media.
"Saudara Ridwan Bae menjelaskan lewat sms bahwa dia tidak bermaksud sama sekali menyampaikan itu. Itu salah kutip. (Yang benar) bukan tidak boleh kata dia, tapi ada kesepakatan ketum menyampaikan semacam komitmen, tapi konteksnya bukan dalam rangka (pencalonan) ketua umum. Tapi teman-teman mengatakan kalau jadi ketua umum sebaiknya fokus disitu," paparnya.
Ahmad Noor pun menegaskan tidak ada persyaratan yang 'mengharamkan' Akom maju sebagai calon ketua umum karena dia menjabat ketua DPR. Pengalaman Akbar Tanjung bisa menjadi contoh. Bahkan di bawah kepemimpinan Akbar, Golkar bisa bangkit dan kemudian pada pemilu selanjutnya keluar menjadi pemenang padahal ketika itu Akbar menjabat Ketua DPR.
"Siapapun (kader Golkar) boleh mencalonkan. Tidak ada persyaratan siapa yang menjabat (di eksekutif/legislatif) tidak boleh menjabat ketum. Yang tidak boleh itu di aturan tidak memiliki PDLT (prestasi, dedikasi, loyalitas, dan tak tercela). Dari sisi PDLT dia (Akom) sudah lolos, dia salah satu kader Golkar terbaik," tukasnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: