Mahasiswa Diminta Keluar dari Hedonisme dan Liberalisme

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/widian-vebriyanto-1'>WIDIAN VEBRIYANTO</a>
LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO
  • Senin, 13 Mei 2013, 19:30 WIB
Mahasiswa Diminta Keluar dari Hedonisme dan Liberalisme
ilustrasi
rmol news logo Menurunnya gelombang gerakan perubahan di era reformasi ternyata tidak hanya dialami oleh mahasiswa. Deideologisasi saat ini juga menjangkiti hampir semua elemen masyarakat, mulai dari organisasi kepemudaan hingga partai politik.

"Bukan hanya mahasiswa, tapi juga semua elemen masyarakat sedang mengalami deideologisasi," tutur Ketua Bidang Politik DPP Perindo, Yusuf Lakaseng, dalam diskusi publik Persatuan Pelajar Mahasiswa Indonesia Perindo (Perisai Perindo) bertajuk "Masih Adakah Pergerakan Mahasiswa di Indonesia?" di kantor DPP Perindo, Jalan Diponegoro 29, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (13/5).

Hal ini terjadi, lanjutnya, karena liberalisasi politik dan didukung orientasi masyarakat yang cenderung hedonis. Menurutnya, gerakan mahasiswa hanya boleh melemah dan kembali ke bangku kuliah ketika situasi politik sudah benar.

Di samping itu, mantan petinggi Partai Nasdem Sulawesi ini menyarankan agar mahasiswa tetap terus mengkaji situasi politik yang ada demi mewujudkan gerakan revolusioner yang efisien.

"Tidak ada praktek yang revolusioner tanpa teori yang revolusioner," lanjutnya mengutip kalimat dari mantan pemimpin Uni Soviet, Lenin.

"Dan terpenting mahasiswa harus keluar dari hedonisme dan liberalisme," tandasnya. [ald]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA