Seruan tersebut mengemuka dalam Forum Konsolidasi dan Diskusi Kebangsaan bertajuk “Merawat Persatuan, Menjaga Indonesia: Suara Pemuda di Tengah Krisis Global”, yang mempertemukan berbagai elemen mahasiswa lintas organisasi.
Koordinator Pusat BEM Nusantara, Muhammad Sardani, menyoroti tantangan era digital yang dipenuhi arus informasi tak selalu akurat.
Ia menilai mahasiswa harus berperan sebagai penyampai informasi yang benar sekaligus penyeimbang di tengah masyarakat.
“Kita tidak hanya jadi penyampai suara, tapi juga harus memastikan informasi yang kita bawa valid dan bisa dipertanggungjawabkan,” kata Sardani di Jakarta, Rabu 22 April 2026.
Sardani juga menekankan pentingnya membangun kembali kepercayaan publik terhadap mahasiswa melalui kontribusi nyata.
“Mahasiswa harus hadir sebagai kawan masyarakat, bukan sekadar pengkritik, tapi juga bagian dari solusi,” ujarnya.
Bendahara Umum Presidium Nasional Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU), Tirta Gangga Listiawan menambahkan, mahasiswa harus mampu memahami substansi isu, bukan sekadar mengikuti arus yang sedang viral.
“Mahasiswa harus paham posisi Undang-Undang Dasar sebagai norma dasar. Jangan sampai ikut menggiring opini tanpa memahami mekanisme konstitusi yang benar,” ujarnya.
Menurut Tirta, literasi hukum dan politik menjadi kunci agar mahasiswa tidak terjebak dalam narasi yang berpotensi memecah belah. Ia juga mengingatkan bahwa ketidakstabilan nasional dapat berdampak luas, mulai dari ekonomi hingga keamanan.
“Kalau persatuan terganggu, dampaknya ke mana-mana investasi menurun, ekonomi terganggu, hingga stabilitas negara terancam,” tegasnya. pungkasnya.
BERITA TERKAIT: