Dengan adanya waduk tersebut, air hujan yang menguyur dataran tinggi Gayo dan Aceh Utara dapat tertampung.
Selain itu, Ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) Perwakilan Aceh Utara, Iskandar PB, juga meminta Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat untuk mencari solusi terbaik terkait menyempitnya dan dangkalnya beberapa badan sungai akibat sedimentasi. Kondisi itu mengakibatkan air tak mengalir secara maksimal dari hulu hingga hilir.
"Dibutuhkan penanganan secara konferensif terhadap persoalan banjir di Aceh Utara," ujar Iskandar dalam keterangan tertulis kepada
Kantor Berita RMOLAceh, Ahad (9/10).
Dalam menangani banjir, lanjut Iskandar, tidak cukup dengan solusi dan penanganan jangka pendek, seperti evakuasi, beri bantuan sembako untuk masyarakat. Semua itu menurut Iskandar tidak sebanding dengan dampak kerugian harta benda yang dialami masyarakat.
"Masyarakat cukup menderita dan rugi setiap tahunnya," ujarnya.
Iskandar menambahkan, pihaknya juga mengidentifikasi bahwa banjir disebabkan maraknya dugaan praktik ilegal logging dan pengrusakan lingkungan di Aceh Utara. Dia juga menilai Polisi Kehutanan (Polhut) di kawasan tersebut belum bekerja maksimal.
"Saya dengar Polhut ada di Aceh Utara, tapi saya kurang tahu apa saja yang telah mereka kerjakan. Bahkan saya tidak mendengar prestasi dari mereka dalam menjaga hutan Aceh Utara," tutup Iskandar.
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: