Angka ini berlipat ganda dalam waktu kurang dari satu dekade akibat tingginya biaya jaminan sosial, lonjakan suku bunga, dan penerimaan negara yang tertekan oleh pemangkasan pajak.
Berdasarkan laporan harian Departemen Keuangan AS, rincian utang tersebut mencakup 32,266 triliun Dolar AS surat utang publik dan 7,782 triliun Dolar AS utang antar-pemerintah.
Secara historis, sekitar sepertiga dari lonjakan ini berasal dari era pandemi. Kebijakan Donald Trump selama dua periode masa jabatannya menyumbang total kenaikan utang 11,6 triliun Dolar AS, sementara era Joe Biden menambah beban sebesar 8,4 triliun Dolar AS.
Pakar memperingatkan adanya ancaman krisis fiskal karena pengeluaran AS jauh melampaui pendapatannya. Dari total pengeluaran tahunan sebesar 7 triliun Dolar AS, sekitar 60 persen dialokasikan untuk program wajib (seperti Social Security dan Medicare) yang sulit dipangkas.
Kondisi ini diperparah oleh biaya pembayaran bunga utang yang kini melonjak hingga 1,1 triliun Dolar AS.
Beban bunga tersebut telah melampaui anggaran pertahanan (Pentagon) serta kesehatan, dan resmi menjadi pos pengeluaran terbesar kedua negara setelah sistem pensiun.
Tingginya penerbitan utang membuat investor menuntut imbal hasil (yield) yang lebih besar, mendorong yield obligasi jangka panjang ke level tertinggi dalam dua dekade. Di sisi lain, minat investor asing yang memegang sepertiga surat utang AS juga terus menyusut.
Sebagai intervensi agresif untuk menekan yield dan meredam volatilitas pasar, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengumumkan pelipatgandaan pembelian kembali (buyback) surat utang tenor 10-30 tahun menjadi sedikitnya 4 miliar per operasi.
BERITA TERKAIT: