Dalam proses tersebut, seluruh personel beserta perlengkapan militer yang mereka kuasai turut diserahkan kepada pihak militer pemerintah.
Mengutip laporan Kantor Berita Sudan (SUNA), Minggu, 2 Agustus 2026, pasukan yang menyerah berasal dari "Group 26" RSF. Meski demikian, otoritas belum mengungkap jumlah personel maupun jenis persenjataan yang diserahkan.
Prosesi penerimaan dilakukan oleh Al-Nour Ahmed Adam atau Al-Nour al-Qubba bersama sejumlah perwira senior Angkatan Bersenjata Sudan dan Dinas Intelijen Umum.
Al-Nour al-Qubba merupakan salah satu pendiri RSF yang membelot ke kubu militer pada April lalu. Sebelumnya, ia termasuk jajaran komandan senior RSF dan terlibat dalam pertempuran memperebutkan Kota El Fasher, ibu kota Negara Bagian Darfur Utara, yang berhasil direbut kelompok tersebut pada Oktober 2025.
Menurut Al-Nour, gelombang penyerahan diri dari anggota RSF masih terus berlangsung.
"Angkatan bersenjata reguler menerima kelompok yang menyerah dan penyerahan serupa terus berlanjut, dengan sejumlah anggota RSF telah bergabung dengan tentara dalam beberapa bulan terakhir," kata dia.
Salah seorang anggota yang menyerahkan diri, Kapten Othman Al-Nour Hasab Khalil, mengatakan dirinya bergabung dengan Angkatan Bersenjata Sudan bersama rekan-rekannya setelah tiba dari Kota Bara di Negara Bagian Kordofan Utara.
Dia juga mengimbau mantan koleganya di RSF agar menghentikan pertempuran dan bergabung dengan militer, seraya menyebut keputusan itu dipengaruhi karakter perang yang bersifat karakter ras dan regional serta adanya rasa termarginalkan di dalam kelompok tersebut.
Hingga kini, RSF belum memberikan tanggapan atas laporan tersebut.
Sudan masih dilanda perang sejak April 2023 akibat konflik antara Angkatan Bersenjata Sudan dan RSF. Pertempuran berkepanjangan itu telah menewaskan puluhan ribu orang, memaksa jutaan warga mengungsi, serta memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
BERITA TERKAIT: