Namun, pembatasan diberlakukan khusus terhadap kapal milik Amerika Serikat dan Israel di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak berarti Iran menutup sepenuhnya selat yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia itu.
Menurutnya, kapal dari negara lain tetap dapat melintas seperti biasa.
“Selat Hormuz hanya tertutup bagi kapal-kapal AS dan Israel,” kata Araghchi dalam wawancara dengan
MS NOW seperti dikutip Minggu, 15 Maret 2026.
Ia menjelaskan bahwa aktivitas pelayaran di kawasan tersebut masih berlangsung. Meski begitu, sejumlah kapal memilih menunda perjalanan karena alasan keamanan yang menurutnya tidak berkaitan dengan Iran.
“Saat ini ada banyak kapal tanker dan kapal lain yang melewati Selat Hormuz,” ujarnya.
Pernyataan itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana pengiriman kapal perang oleh Washington bersama sejumlah negara lain guna memastikan selat tersebut tetap terbuka dan aman setelah muncul klaim upaya Iran menutup jalur pelayaran tersebut.
Dalam unggahannya di Truth Social, Trump menyebut sejumlah negara yang disebut terdampak oleh situasi tersebut, di antaranya China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, dan Inggris, seraya berharap negara-negara tersebut turut mengirim kapal ke kawasan itu.
Dalam wawancara yang sama, Araghchi juga menepis berbagai spekulasi mengenai kondisi pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei.
Ia menegaskan bahwa tidak ada masalah dengan pemimpin tersebut dan pemerintahan Iran tetap berjalan normal.
“Dia menyampaikan pesannya kemarin dan akan menjalankan tugasnya. Dia menjalankan tugasnya sesuai dengan konstitusi dan akan terus melakukannya," tegas Araghchi.
BERITA TERKAIT: