Ketika tiba di lokasi pertemuan di Nusa Dua, Bali pada Jumat (8/7), Lavrov langsung diteriaki
"When will you stop the war" dan
"Why don't you stop the war". Ketika itu, Lavrov tengah berjabat tangan dengan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang menyambutnya.
Tidak hanya itu, Lavrov juga mengaku mendapatkan banyak kritik dari negara-negara Barat selama pertemuan yang turut membahas upaya menghentikan perang di Ukraina itu.
"(Kata-kata) 'agrsor', 'penjajah, 'pendudukan', kami banyak mendengar itu hari ini," kata Lavrov kepada wartawan, seperti dikutip
Reuters.
Lavrov mengatakan, Barat telah menyia-nyiakan kesempatan untuk membahas situasi ekonomi, dan membuat diskusi menyimpang terkait situasi di Ukraina.
"Selama diskusi, mitra Barat menghindari mengikuti mandat G20, dari menangani masalah ekonomi dunia," ucapnya.
Televisi pemerintah Rusia mengatakan kritik terhadap Lavrov merupakan upaya untuk memboikot Rusia di G20. Namun itu telah gagal, dan justru menyinggung Indonesia sebagai tuan rumah.
Lebih lanjut, Lavrov mengatakan Rusia siap untuk melakukan negosiasi dengan Ukraina dan Turki terkait dengan pasokan gandum. Tetapi tidak jelas kapan pembicaraan tersebut akan dilakukan.
Ia juga menuturkan, jika Barat ingin Ukraina mengalahkan Rusia, maka tidak ada yang perlu dibicarakan dengan Barat.
Sementara itu, dalam sambutannya, Retno mendesak agar G20 membantu mengakhiri perang di Ukraina dan mencari solusi terkait dampak perang terhadap rantai pasok pangan.
BERITA TERKAIT: