Hal tersebut dikatakan Trump setelah harga minyak global tercatat melonjak sekitar 16 persen sejak serangan awal AS bersama Israel pada akhir bulan lalu.
Dampaknya, rata-rata harga bahan bakar di Amerika Serikat meningkat sekitar 27 sen dalam sepekan terakhir menjadi sekitar 3,25 Dolar AS per galon.
Namun demikian, ia meyakini harga energi akan kembali turun setelah perang berakhir.
“Saya tidak khawatir soal itu. Harga akan turun sangat cepat setelah ini berakhir, dan jika naik, ya naik saja, tetapi ini jauh lebih penting daripada kenaikan harga bensin sedikit,” ujar Trump seperti dikutip dari Reuters, Jumat 6 Maret 2026.
Trump juga menyebut pemerintah belum memiliki rencana untuk melepas cadangan minyak strategis negara. Ia menilai potensi penutupan jalur distribusi energi di Selat Hormuz tidak akan berlangsung lama.
Menurutnya, pengiriman minyak di jalur tersebut masih dapat berjalan karena militer AS mengklaim telah melumpuhkan kekuatan angkatan laut Iran di kawasan itu.
Klaim tersebut dikatakan Trump setelah pasukan militer AS menyerang kapal perang Iran di Samudra Hindia. Insiden itu terjadi ketika kapal selam Angkatan Laut AS menembakkan torpedo yang menenggelamkan fregat Iran IRIS Dena di perairan dekat Sri Lanka.
Kapal tersebut dilaporkan sedang dalam perjalanan pulang setelah mengikuti latihan militer internasional yang digelar India.
Otoritas Sri Lanka menyatakan sebanyak 32 awak kapal berhasil diselamatkan. Namun sedikitnya 87 pelaut Iran dilaporkan tewas akibat serangan tersebut.
Trump mengatakan salah satu tujuan utama perang ini adalah untuk melenyapkan angkatan laut Iran.
BERITA TERKAIT: