Begitu peringatan yang disampaikan oleh aktivis perempuan sekaligus Utusan Perdamaian PBB, Malala Yousafzai saat berbicara di salah satu rangkaian pertemuan Sidang Umum PBB pada Jumat sore (18/9).
Peraih Nobel termuda itu mengakui, pandemi Covid-19 telah menciptakan kemunduran bagi tujuan kolektif untuk mendidik perempuan.
"Di bidang pendidikan saja, 20 juta lebih anak perempuan mungkin tidak akan pernah kembali ke ruang kelas saat krisis ini berakhir (dan) kesenjangan pendanaan pendidikan global telah meningkat menjadi 200 miliar dolar per tahun," terangnya seperti dikutip
Dawn, Minggu (20/9).
Dalam pernyataannya, Malala mengingatkan komitmen komunitas internasional yang telah ditetapkan PBB lima tahun lalu untuk memajukan masa depan jutaan anak perempuan dan mempejuangkan kesetaraan.
"Kapan Anda berencana untuk melakukan pekerjaan itu?" tanya Malala.
“Kapan Anda akan mengalokasikan dana yang diperlukan untuk memberikan pendidikan berkualitas kepada setiap anak selama 12 tahun? Kapan Anda akan memprioritaskan perdamaian dan melindungi pengungsi? Kapan Anda akan mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi emisi karbon?" tanyanya lagi.
Malala merupakan gadis Pakistan yang ditembak oleh kelompok Taliban pada 9 Oktober 2012. Ia ditembak di bagian kepala dan leher saat berada di bus yang akan membawanya pulang sekolah.
Malala diterbangkan ke Inggris untuk dirawat di rumah sakit di Birmingham. Ia akhirnya tinggal dan melanjutkan pendidikan di Universitas Oxford, Inggris.
BERITA TERKAIT: