Rabu (9/9), Netanyahu menyerukan dilakukannya penyelidikan terhadap para penyelidik yang mengujukan tuduhan korupsi terhadapnya.
Seruan tersebut disampaikan Netanyahu dan partainya, Partai Likud, serta sekutunya. Di mana sebelumnya,
Channel 12 melaporkan, polisi dan jaksa penuntut telah gagal mengungkap dugaan konflik kepentingan oleh seorang penyelidik kasus korupsi terhadapnya.
"Jelas bahwa polisi dan penuntut membuat keputusan politik yang bertentangan dengan keadilan dan hukum untuk menjatuhkan perdana menteri sayap kanan," ujar Netanyahu pada awal pertemuan Partai Likud pada Rabu malam.
"Perilaku ini harus diselidiki," tegasnya seperti dikutip
Reuters.
Selama ini, Netanyahu yang didakwa dengan tiga tuduhan kasus korupsi menuding polisi dan jaksa melakukan bias terhadapnya. Netanyahu diadili karena penyuapan, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan. Namun ia menyangkal melakukan kesalahan.
Pengadilan kasus korupsi Netanyahu dimulai pada Mei dan akan dilanjutkan kembali pada Januari 2021.
Sejauh ini, pihak Kantor Kejaksaan Israel menolak untuk mengomentari seruan Netanyahu.
Namun dalam suatu pernyataan, Kementerian Kehakiman Israel mengatakan, penyelidik yang dirujuk dalam laporan
Channel 12 tidak terlibat dalam kasus konflik kepentingan.
Jaksa Agung Avichai Mandelblit menyebut klaim ketidakwajaran peradilan sebagai kebohongan tak berdasar yang sepenuhnya dimaksudkan untuk mendelegitimasi sistem peradilan dan keputusannya terkait perdana menteri.
Para kritikus sendiri menganggap seruan Netanyahu dilakukan untuk pengalihan isu karena buruknya penanganan pandemi Covid-19. Mantan rival Netanyahu, Gantz juga mengkritik seruan Netanyahu.
"Serangan tajam oleh pemerintah terhadap sistem penegakan hukum berbahaya bagi demokrasi Israel," tekannya.
Di tengah pandemi, Netanyahu dan Gantz kerap berselisih mengenai tanggapan virus corona hingga kebijakan fiskal.
Sejauh ini, Israel sudah melaporkan lebih dari 139 ribu kasus Covid-19 dengan 1.048 kematian.
BERITA TERKAIT: