Diberitakan oleh
Reuters, Minggu (8/9), dua diplomat AS yang ikut melakukan penyelidikan IAEA menyatakan mereka menemukan jejak uranium yang saat ini sedang dikembangkan oleh Iran. Uranium tersebut bisa dijadikan inti bom nuklir.
Meski demikian, para diplomat tersebut menyatakan bahwa saat ini Iran belum memberikan penjelasan apa pun kepada IAEA sehingga sulit untuk melakukan verifikasi asal-usul partikel tersebut. Selain itu, belum diketahui apakah partikel tersebut ada sebelum kesepakatan nuklir 2015 atau setelahnya.
"Ada banyak kemungkinan penjelasan," ujar salah seorang diplomat tersebut. Sementara itu, IAEA juga tidak memberikan komentar.
Dalam pemilihan umum tahun lalu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu meminta IAEA untuk mengunjungi sebuah tempat yang ia katakan sebagai "gudang atom rahasia" milik Iran. Netanyahu mengatakan bahwa di sana terdapat 15 kg bahan radioaktif.
Setelah itu, pada April lalu, IAEA mengambil sampel lingkungan untuk dianalisa. Hasilnya memang ditemukan jejak bahan atau materi radioaktif.
BERITA TERKAIT: