Pada Jumat siang, 13 Maret 2026, harga Bitcoin tercatat naik sekitar 2,81 persen menjadi sekitar 71.309 dolar AS, menurut data CoinMarketCap. Kenaikan ini menunjukkan minat investor terhadap aset kripto masih cukup kuat meski kondisi pasar global belum sepenuhnya stabil.
Dalam sepekan terakhir, pergerakan Bitcoin juga cukup sejalan dengan indeks saham utama Wall Street, S&P 500. Hubungan ini menunjukkan bahwa keduanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi global yang sama, seperti kebijakan pemerintah dan kondisi pasar energi.
Salah satu faktor yang mendorong kenaikan Bitcoin kali ini adalah kebijakan pemerintah AS terkait pasar minyak. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengumumkan izin sementara bagi sejumlah negara untuk kembali membeli minyak dari Rusia yang sebelumnya dibatasi oleh sanksi.
Kebijakan ini bertujuan menekan harga energi dunia dan meredakan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi yang disertai inflasi tinggi. Dalam kondisi pasar yang tidak pasti, sebagian investor kembali melihat Bitcoin sebagai aset alternatif untuk menjaga nilai investasi.
Kenaikan harga juga dipicu oleh aktivitas di pasar derivatif. Banyak trader sebelumnya memasang taruhan bahwa harga Bitcoin akan turun. Ketika harga justru naik, banyak posisi tersebut terpaksa ditutup dengan total likuidasi sekitar 94 juta Dolar AS, yang pada akhirnya ikut mendorong harga semakin tinggi.
Dalam jangka pendek, pergerakan Bitcoin masih akan dipengaruhi oleh keputusan bank sentral AS, Federal Reserve, yang dijadwalkan menggelar pertemuan pada 17-18 Maret. Jika kebijakan yang diambil lebih ketat, pasar aset berisiko, termasuk Bitcoin, berpotensi mengalami tekanan kembali.
BERITA TERKAIT: