Penurunan terjadi seiring aksi jual yang melanda pasar global akibat meningkatnya kekhawatiran geopolitik. Pergerakan Bitcoin juga tercatat memiliki korelasi cukup kuat dengan emas, yakni 54,56 persen, yang menunjukkan keduanya sama-sama dipengaruhi sentimen makro global.
Tekanan pasar mulai meningkat pada Minggu malam, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan kepada Iran. Situasi tersebut memicu aksi “risk-off” atau penghindaran risiko di pasar keuangan. Akibatnya, Bitcoin, sejumlah altcoin utama, hingga kontrak berjangka saham AS mengalami penurunan secara bersamaan.
Penurunan harga yang terjadi kemudian memicu likuidasi besar-besaran pada posisi beli atau long yang menggunakan leverage tinggi. Dalam 24 jam terakhir, total likuidasi posisi long mencapai 584,38 juta Dolar AS. Dari jumlah tersebut, Bitcoin menyumbang sekitar 180,89 juta Dolar AS.
Kondisi ini menunjukkan banyak trader yang sebelumnya bertaruh harga Bitcoin akan terus naik akhirnya terpaksa menutup posisi mereka karena tekanan pasar yang terlalu besar.
Untuk jangka pendek, perhatian pelaku pasar kini tertuju pada level support 76.000 Dolar AS. Analis kripto Michael van de Poppe menyebut level tersebut menjadi area penting yang perlu dipertahankan Bitcoin agar tekanan jual tidak semakin dalam.
Selain faktor geopolitik, pasar juga menunggu rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 20 Mei. Dokumen tersebut dinilai penting karena dapat memberikan petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed ke depan. Jika nada kebijakan masih cenderung ketat, aset berisiko seperti kripto berpotensi kembali tertekan.
BERITA TERKAIT: