Pergerakan ini sejalan dengan pelemahan pasar kripto secara keseluruhan yang tercatat turun 2,88 persen. Tekanan muncul dari kombinasi faktor teknikal, pergerakan investor, dan kondisi makroekonomi global.
Dari sisi teknikal, Bitcoin sempat menguji level resistensi 94.000 Dolar AS pada 6 Januari, namun gagal menembus area tersebut. Penolakan terjadi akibat kuatnya tekanan jual yang terlihat dari penumpukan likuiditas sell-wall senilai sekitar 4,7 miliar Dolar AS di sejumlah bursa besar seperti Binance. Level ini telah berulang kali menahan reli Bitcoin sejak akhir Desember.
Di sisi lain, minat investor mulai bergeser ke aset kripto lain. Rotasi dana ke altcoin, khususnya Solana, terlihat dari melonjaknya volume perdagangan ETF spot Solana yang mencapai US$220 juta pada 6 Januari, atau naik sekitar 80 persen dibandingkan Oktober. Perpindahan modal ini turut mengurangi daya dorong Bitcoin dalam jangka pendek.
Tekanan juga datang dari faktor makroekonomi. CEO CryptoQuant, Ki Young Ju, menilai arus masuk modal ke Bitcoin mulai mengering, seiring meningkatnya minat investor institusi terhadap pasar saham dan logam mulia. Kondisi ini mencerminkan sikap investor yang lebih berhati-hati di tengah ketidakpastian global.
Ke depan, perhatian pasar tertuju pada apakah Bitcoin mampu bertahan di level 88.500 Dolar AS, terutama jika data inflasi Amerika Serikat (CPI) yang akan dirilis pekan ini memberikan kejutan bagi pasar.
BERITA TERKAIT: