“Kami pendatang baru, jika ada cukai ya kami berharap pemeÂrinÂtah bijak lah,†kata Hendrawan Judianto, pemilik minuman soda merek Indo Saparella.
Hendrawan baru beberapa taÂhun membangun bisnis miÂnuman yang di masa lalu, konon, biasa disebut minuman bangsaÂwan Yogyakarta.
“Kami baru membangun usaÂha ini, bahkan baÂru mau bangun pabrik, bukan mengÂhidupkan usaÂÂha lama milik keluraga,†ucapnya.
Dia mengaku agak bingung ketika mengetahui ihwal rencana pengenaan cukai untuk minuman bersoda karena masih tergolong pendatang baru di bisnis minuÂman itu.
Hendrawan mengaku awal mendirikan usaha minuman soda sarsaparilla karena keluarganya suka dengan minuman tersebut. Sayangnya, produk itu tidak diÂjumpainya lagi.
“Ya sudah kami bikin sendiri saja sekalian. Bisnis dan pasarÂnya ternyata bagus,†katanya.
Hal senada disampaikan peÂmiÂÂlik merek AyHwa, Hendra GuÂÂwanto. Berbeda dengan Indo SaÂÂparella, AyHwa adalah indusÂtri rumahan. Dia mengaku tidak meÂngerti ihwal pengenaan cukai.
Sejumlah usaha minuman soda di Yogyakarta memang sudah baÂnyak yang tumbang. Saat ini haÂnya bisa dijumpai tiga merek, yaitu Indo Saparella, AyHwa dan Minerva.
Dia mengaku sulit memÂperÂtaÂhanÂkan usahanya kalau ingin tetap asli dengan kemasan botol bertuÂtup keramik dan pengait kawat.
Seperti diketahui, pemerintah berÂenÂcana mengenakan cukai terÂhadap minuman bersoda. Alhasil, para pelaku bisnis minuman berÂsoÂda ketar-ketir dengan rencana itu.
Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (KeÂmenperin) Benny Wachjudi meÂnegaskan, pihaknya menolak dan tidak akan mendukung kebijakan tersebut.
Menurutnya, kebijakan itu diÂkhawatirkan memukul pelaku industri yang sedang mencoba bertahan dari imbas krisis global.
“Kami pernah menolak mati-matian. KemenÂperin tidak akan mendukung,†tegasnya.
Benny mengaku, pengenaan cukai terhadap minuman ringan bersoda dan bumbu penyedap pernah diterapkan pada 2001-2002. Namun, setelah mendapat penolakan dan dikaji ulang, keÂbijakan itu akhirnya dicabut.
“Kalau diterapkan lagi berarti mengikuti sejarah yang sesat,†ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: