Mahyudin mengungkapkan, dalam ketatanegaraan, MPR tidak hanya menjalankan fungsi sesuai UUD dan UU, tetapi lebih dari itu MPR menjadi "penjaga gawang" dalam menangkal pengaruh negatif globalisasi khususnya terhadap ideologi Pancasila.
Menurut politikus Partai Golkar ini, globalisasi membawa dampak negatif terhadap Pancasila. Dampak itu terlihat dari memudarnya nilai-nilai Pancasila di masyarakat.
"Kekisruhan baik sosial, politk, dan agama yang terjadi sekarang ini karena memudarnya nilai-nilai Pancasila di masyarakat," katanya.
Salah satu contoh kekisruhan adalah skandal "papa minta saham". "Kalau waktu lalu tidak ada menteri yang melaporkan ketua DPR, sekarang menteri melaporkan ketua DPR," katanya memberi contoh.
Globalisasi, lanjut Mahyudin, sering dipersepsikan dengan kebebasan dan persaingan bebas atau neo liberalisme. Di satu sisi, persaingan bebas menjadi penting karena mendorong efisiensi.
Tapi bagi Mahyudin, masyarakat Indonesia belum siap menghadapi persaingan bebas. Karena pendidikan masyarakat Indonesia masih rendah dan ekonominya pun belum kuat. Akibatnya, yang kaya semakin kaya dan mereka yang miskin semakin miskin.
Pada kenyataannya, Indonesia saat ini lebih liberal dibanding negara liberal lainnya. "Kita tidak cocok dengan liberalisme. Kita cocok dengan welfare state karena nilai gotong royong," kata Mahyudin.
Pancasila menjadi filosofi yang menjaga keutuhan bangsa. Mahyudin menjelaskan MPR menjadi "penjaga gawang" dengan mensosialisasikan Empat Pilar MPR (Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika).
[rus]
BERITA TERKAIT: