"Mereka menyambut baik pidato Soekarno karena Pancasila mengandung nilai-nilai universal," kata Zulkifli saat memberikan orasi ilmiah pada acara wisuda Universitas Nasional, di Jakarta Convention Center, Jakarta Pusat, Minggu (13/9).
Apa yang dilakukan oleh Soekarno itu, lanjut Zulkifli, diulang kembali di hadapan para anggota PBB tahun 1960.
Zulkifli menjelaskan, pada masa-masa itu Soekarno menyangkal bahwa dunia terbagi dalam dua blok, komunis dan kapitalis. Menurut Soekarno masih ada jutaan rakyat lain yang tak menganut kedua blok itu. Rakyat itu bisa berada di Amerika Latin, Afrika, dan Asia.
Masih cerita Zulkifli, Soekarno menegaskan bahwa Indonesia tak dipimpin oleh kedua paham itu. Indonesia mempunyai paham sendiri yakni Pancasila. Pancasila nilai-nilainya terkandung di nusantara sejak berabad-abad yang lalu.
Lalu, setelah tujuh puluh tahun Indonesia merdeka, seluruh anak bangsa menurut Zulkifli harus merefleksikan Pancasila, apakah masih diterima atau tidak.
Dipaparkan kecenderungan global menciptakan teknologi baru dalam bidang komunikasi. Komunikasi yang ada membuat dunia tanpa jarak dan membuat peristiwa lokal dipengaruhi globalisasi. "Globalisasi menerpa seluruh dunia," ujar Zulkifli.
Menurut Zulkifli, globalisasi yang melanda Indonesia membuat munculnya gerakan demokratisasi di satu sisi, di sisi lain mengakibatkan munculnya desentralisasi hingga etno lokal.
Tak hanya itu, desentralisasi juga mengakibatkan adanya pasar bebas. Pasar bebas yang demikian massifnya mengakibatkan lemahnya perlindungan kepada rakyat, munculnya pelaku ekonomi yang tak terkendali, dan menjadikan pemerintah lemah dalam mengambil kebijakan karena tekanan dan pengaruh dari luar.
Untuk itu Zulkifli menekankan kembali agar semua anak bangsa membumikan Pancasila untuk menangkal segala hal negatif dari massifnya dampak globalisasi.
"Perlu semangat kerja sama dan solidaritas," demikian ketua umum PAN itu.
[rus]
BERITA TERKAIT: