Menurutnya, harga BBM di Indonesia masih relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah negara lain, meski pemerintah baru saja menyesuaikan harga BBM non-subsidi.
Andre menegaskan bahwa pemerintah hingga saat ini tidak menaikkan harga BBM bersubsidi. Penyesuaian yang dilakukan hanya berlaku untuk BBM non-subsidi, termasuk Pertamax, yang selama beberapa waktu sebelumnya masih ditahan di tengah kenaikan harga minyak dunia dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
“Pemerintah tidak menaikkan harga BBM bersubsidi. Yang naik adalah BBM non-subsidi,” kata Andre dalam keterangannya, Sabtu 13 Juni 2026.
Menurut Andre, penetapan harga BBM non-subsidi tetap mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat dan daya beli dalam negeri. Karena itu, harga yang berlaku saat ini dinilai masih lebih rendah dibandingkan banyak negara lainnya.
“BBM non-subsidi ini dinaikkan pun, harganya memperhatikan kepentingan rakyat. Jadi harganya masih jauh daripada harga di negara-negara lain,” ujarnya.
Ia menyebut harga BBM non-subsidi di Indonesia saat ini berada di kisaran Rp16 ribuan per liter. Angka tersebut masih berada di bawah harga BBM di sejumlah negara yang telah mencapai Rp20 ribu hingga Rp40 ribu per liter.
“Kita masih Rp16 ribuan, negara-negara lain sudah ada Rp20 ribu, Rp30 ribu, Rp40 ribu,” tegasnya.
Andre juga menilai keputusan pemerintah untuk mempertahankan harga BBM bersubsidi merupakan bentuk keberpihakan kepada masyarakat di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlangsung.
“Ini adalah komitmen pemerintah untuk tetap bersama rakyat, sehingga harga BBM subsidi tidak ada kenaikan,” katanya.
Sebelumnya, penurunan harga BBM menjadi salah satu tuntutan yang disuarakan mahasiswa dalam aksi demonstrasi di Jakarta pada Jumat (12/6/2026). Tuntutan tersebut muncul setelah pemerintah menaikkan harga Pertamax menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026, dari sebelumnya Rp12.300 per liter.
BERITA TERKAIT: