Sayangnya, kekayaan itu tidak diikuti rasa sukur yang memadai. Dan karena kurang pandai dalam bersyukur, itulah maka kekayaan Indonesia yang bayak itu diambil alih oleh orang lain tanpa diketahui bangsa Indonesia sendiri. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan dan karena itu harus dijaga agar pencurian seperti itu tidak berlanjut.
Demikian disampaikan Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, saat menyampaikan dialog kebangsaan dengan tema 'Menatap Indonesia Masa Depan' di Gedung Roediro Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Kamis (3/9).
Ke depan, menurut Zulkifli. Indonesia harus lebih bijaksana dalam memanfaatkan dan menjaga kekayaan alamnya. Salah satunya adalah kekayaan alam laut. Apalagi selain potensi ikan, keindahan alam laut Indonesia juga memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan. Antara lain, Raja Ampat, Wakatobi, serta Nusa Penida di Bali.
"Untuk mengatasinya, dibutuhkan anak-anak muda yang berpendidikan tinggi sehingga memiliki kemampuan untuk berkontribusi pada pembangunan," kata Zulkifli menambahkan.
Pada kesempatan itu, Ketua MPR juga mengatakan, sila keempat Pancasila Kerakyatan yang dimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dalam prakteknya sudah mengalami perubahan. Perubahan makna sila keempat Pancasila, itu terjadi seiring berkembangnya demokrasi di Indonesia pasca reformasi. Akibatnya sila keempat pun telah dimaknai menjadi one man one vote. Padahal cara pemilihan berdasarkan suara terbanyak membawa dampak yang sangat besar. Salah satunya adalah maraknya praktek money politic.
Praktek money pilitik yang menghiasi wajah demokrasi Indonesia telah memenjarakan kepentingan rakyat. Karena yang muncul dari praktek money politic adalah kepentingan para pemilik modal.
"Bukan saya tidak setuju pemilihan langsung, namun karena ini di kampus saya sampaikan kelemahan dalam cara berdemokrasi yang kita pilih pada saat ini," tukas Zulkifli dalam rilis Humas MPR yang dikirim ke redaksi.
[ian]
BERITA TERKAIT: