Suami Tewas, Coba Cari Kerja Setelah Melahirkan

Keluarga Korban Afriyani Minta Ganti Rugi

Kamis, 02 Februari 2012, 08:55 WIB
Suami Tewas, Coba Cari Kerja Setelah Melahirkan
ilustrasi/ist
RMOL.Maut tak dapat ditolak. Selain memunculkan kesedihan, kematian juga menyisakan penderitaan bagi keluarga yang ditinggalkan. Apalagi bila yang meninggal adalah pencari nafkah. Masa depan keluarga jadi tak menentu.

Itulah yang dialami keluarga Firmansyah. Firmansyah (21) te­was tertabrak Xenia yang di­ke­mu­dikan Afriyani Susanti yang te­ngah dalam pengaruh alkohol dan narkoba, Minggu (22/1) di Jalan MI Ridwan Rais, Jakarta Pusat.  

“Kalau lihat fotonya, sampai sekarang saya masih sedih,” kata Yusuf sambil menunjukkan foto pernikahan Firmansyah dengan Dini Ardiani yang dipajang di tembok rumah tamu rumahnya. Yusuf adalah ayah Firmansyah.

Keluarga Firmansyah bukan­lah orang berada. Mereka tinggal di Ja­lan Tinggi XII RT 12 RW 7 Nomor 5, Johan Baru, Jakarta Pu­sat yang merupakan kawasan pe­mukiman padat penduduk. Ru­mah-rumah di sini saling ber­dem­petan satu sama lain. Untuk men­capai rumah ke­luarga ini harus melalui gang selebar 1,5 meter yang hanya bisa dilalui sepeda motor.

Sambil memandangi foto itu, Yusuf mengatakan, Firmansyah me­nikah 10 bulan lalu. Setelah me­nikah, Firmansyah dan istri­nya tinggal bersamanya.

Menurut Yusuf, Firmansyah yang bekerja sebagai office boy di Mardani, Jakarta Pusat adalah adalah tulang punggung keluarga. Sebab, istrinya tak lagi bekerja. Lan­taran sedang sakit perut, Yu­suf mempersilakan menemui Dini, istri Firmansyah yang kini me­ngontrak persis di depan rumahnya.

Saat ditemui Rakyat Merdeka, Dini (20) tengah berbincang de­ngan ibu dan kakaknya di lorong rumah kontrakan. Sesekali sang ibu menyuapi Dini yang tengah mengandung tujuh bulan ini.  Raut wajah Dini sudah mulai ce­ria. Sesekali dia tertawa saat ber­canda dengan keponakannya yang masih balita.

“Kalau dibilang sedih, sampai saat ini saya tetap masih sedih. Tapi saya sudah ikhlas atas me­ninggalnya suami saya. Mena­ngis terus juga tidak bisa mem­buat suami saya kembali lagi,” tutur Dini.

Rumah yang ditinggali Dini berada di lantai dua. Untuk naik ke atas harus melalui tangga kayu di depan rumah. Seluruh dinding di bagian atas rumah terbuat dari kayu dan triplek.

Ada enam kamar yang dise­wa­kan di sini. Dini menempati kamar nomor dua di sebelah kiri. Kamarnya berukuran 2x2 meter. Peralatan elektronik yang ada di kamar ini hanyalah magic jar dan dispenser.

“Ini kamar kontrakan yang saya tempati sebelum menikah de­ngan Mas Firman. Setelah me­nikah, saya ikut tinggal dengan keluarganya di rumah depan. Tapi sejak suami saya meninggal, saya kembali lagi kesini,” jelasnya.

Uang sewa kontrakan ini Rp 275 ribu per bulan. Sudah ter­ma­suk biaya listrik dan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Dini mendengar kabar tewas­nya Firmansyah saat menjaga ibu mertuanya yang tengah dirawat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Ia langsung syok dan tak henti-hentinya menangis. Beruntung dia masih memiliki ibu dan kakak yang te­rus menghiburnya sehingga tak terus larut dalam kesedihan.

Dini mengaku tidak men­da­patkan firasat apa pun atas keper­gian Firmansyah. Bahkan, di usia kandungannya yang sudah tua, Firman kerap berbicara padanya ingin membesarkan anak perta­manya itu secara bersama-sama.

“Dia (Firman) memang punya kebiasaannya setiap Minggu pagi selalu bermain bola bersama anak-anak di lingkungan ini di Monas. Jadi ketika dia pamit untuk main bola, saya pun juga biasa saja,” terang Dini sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membesar.

Sepeninggal Firmansyah, Dini berusaha untuk kuat lantaran tak lama lagi akan melahirkan. Ren­cananya sang jabang bayi muncul ke duni fana ini akhir Maret atau awal April.

Hingga kini dia belum tahu jenis kelamin bayi yang dikan­dung­nya. Namun sebelum Fir­man­syah meninggal, mereka su­dah mencari nama untuk anak ini.

“Kalau perempuan akan dika­sih nama Nicky Ardiansyah dan kalau laki-laki akan dikasih nama Ardiansyah. Nama Ardian­syah merupakan perpaduan dari nama kami, yakni Dini Ardiani dan Firmansyah,” tuturnya sam­bil ter­senyum.

Apa rencana kedepan? Untuk menghidupi keluarganya, Dini akan mencari kerja. Sebelumnya dia pernah bekerja sebagai SPG di Mall Atrium Senen.

Ia tak bisa membayangkan nasib anaknya kelak yang ber­status yatim. Menurut dia, ke­be­radaan sosok ayah sangat penting bagi pertumbuhan dan perkem­bangan seorang anak.

“Saya bingung kalau nanti di­tanya oleh anak saya di mana ba­pak­nya? Ibu dimana pun, pasti akan terpukul kalau mengalami na­sib yang sama seperti saya,” kata dia.

Hingga saat ini, Dini belum tahu cara menyampaikan kabar kematian Firmansyah kepada ibu mertuanya. Ia masih mengunci rapat kabar ini lantaran tak ingin kesehatan ibu mertua yang terse­rang stroke menjadi memburuk.

 â€œDari kemarin memang ibu mer­tua saya selalu bertanya di mana Firman. Kami hanya bisa ja­wab kalau Firman sedang diajak bos­nya ke luar kota,” kata Dini.

Uang Santunan Untuk Biaya Berobat Mertua

Keluarga korban tewas telah men­dapat santunan sebesar Rp 40 juta. Dari Jasa Raharja Rp 25 juta, Pemda DKI Jakarta Rp 10 juta dan dari Kementerian Sosial Rp 5 juta.

Mau diapakan uang ini? Menu­rut Dini Ardiani, istri dari Fir­man­syah, salah satu korban tewas, uang itu akan dibagi dua. Se­ba­gian diserahkan ke keluarga sua­minya. Sebab, ibu mertuanya te­ngah dirawat di Rumah Sakit Is­lam Cempaka Putih karena stroke. “Tentunya butuh biaya besar.”

Sisanya ditabung untuk masa depan dirinya dan anak yang te­ngah dikandung. “Kalau bisa sih saya mau depositokan. Biar nanti anak saya besar ada biaya untuk dia sekolah,” jelas Dini kepada Rakyat Merdeka.

Ia belum tahu berapa uang akan disimpan dalam bentuk deposito. Sebab, tak lama dia akan me­lahir­kan. “Pastinya untuk melahirkan, saya akan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi suami saya tidak ada, tentunya saya yang akan menanggung semua­nya,” ujarnya.

Tak hanya itu, dana santunan yang kini sudah diterimanya juga akan dipakai untuk biaya hidup sehari-hari. Karena saat ini diri­nya tidak bekerja sehingga tidak memiliki penghasilan. Satu-satu­nya dana yang dimiliki berasal dari uang santunan itu.

“Nanti mudah-mudahan kalau saya sudah melahirkan dan anak saya sudah usia berapa bulan, saya akan kembali kerja. Insya Allah, gajinya bisa untuk membesarkan anak saya kelak,” harapnya.

Tuntutan Ganti Rugi Bisa Miliaran Rupiah

Keluarga korban kecela­ka­an di Jalan MI Ridwan Rais Ja­karta Pusat, Minggu (22/1) me­nyiapkan gugatan perdata ter­ha­dap Afriyani Susanti. Keluarga akan menuntut ganti rugi dari pe­ngemudi mabuk yang me­ne­waskan sembilan orang tewas.

“Kami segera mengajukan gu­gatan perdata. Saat ini masih dalam proses penyusunan ber­kas gugatan,” kata Ronny Ta­lapessy, pengacara keluarga korban di Polda Metro Jaya, Se­lasa lalu (31/1).

Ronny mengaku menjadi kuasa hukum keluarga empat korban tewas, yakni M Firman­syah, Bukhari alias Ari, Hud­zaifah dan Muhammad Akbar.

Tim pengacara korban akan mengajukan gugatan perdata berupa ganti rugi bernilai mi­lia­ran rupiah melalui Pengadilan Negeri Jakarta Utara.

Namun kepastian berapa nominal ganti rugi itu, menurut Ronny, masih dalam perhitu­ngan kuasa hu­kum dengan para keluarga korban.

“Kita pertimbangkan gam­baran nilai (ganti rugi) dengan angka yang logis. Kami akan mempertimbangkan gambaran nominal gugatan berdasarkan inflasi, kebutuhan biaya anak korban tewas,” jelasnya.

Dini Ardiani, istri Fir­man­syah, salah satu korban tewas setuju dengan gugatan ini. Me­nurutnya, musibah yang di­alaminya dan keluarga korban yang lain harus dibayar mahal oleh Afriyani.

Apalagi, sampai hari ini, be­lum ada satu pun dari keluarga pelaku yang berinisiatif datang langsung untuk meminta maaf.

“Kami memang sudah meli­hat keluarga, yakni ibu dan adik pelaku sudah meminta maaf melalui media. Tapi apakah pan­tas minta maaf dilakukan hanya dari media saja? Padahal korban tewas itu nyata terjadi,” jelasnya.

Sebagai seorang muslim, Dini siap untuk memberi maaf pada pelaku jika mau datang langsung ke rumah. Permintaan maaf hanya melalui media, menurutnya, tidak cukup untuk menghapus beban penderitaan yang telah dialami keluarga korban.

“Hanya yang perlu diingat, dengan kami memaafkan ja­ngan dianggap masalahnya sudah selesai. Karena untuk per­soalan hukum, kami ber­ha­rap aparat hukum dapat menye­lesaikan dengan seadil-adil­nya,” ujarnya.

Dini sendiri berharap agar pe­laku tabrakan bisa diberikan hu­kuman yang sebanding. “Kalau ha­­nya dipenjara selama enam ta­hun seperti yang diberitakan, je­las kami kecewa. Tapi kalau sam­pai dipenjara lebih lama dari itu, baru kami bisa terima,” ujarnya.

Wanita yang sedang hamil tujuh bulan ini mengaku sudah tidak sabar untuk hadir di per­sidangan kasus kecelakaan maut ini. Dengan begitu, pelaku dan keluarga korban bisa ber­hadap-hadapan.

“Kami hanya ingin lihat se­cara langsung saja, bagaimana sih wajah orang yang telah membuat suami saya itu me­ninggal? Apakah ada penye­salan dalam dirinya atau tidak?” kata Dini

Mengenai nilai ganti rugi yang mencapai miliaran rupiah, menurut Dini,  itu wajar untuk mengganti rasa kehilangan k­e­luarga yang telah ditinggalkan. Apalagi, korban yang mening­gal bukan hanya satu orang, te­tapi mencapai sembilan orang.

“Sebenarnya berapa pun no­minal uangnya, tidak bisa di­sejajarkan dengan nyawa yang melayang. Tapi demi keadilan, saya setuju kalau pelaku sampai digugat miliaran rupiah,” ujarnya. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.