Fauzan Muhammad tampak anteng memegang al-Qurannya yang hanya seukuran dompet itu. Duduk di kursi lipat dekat tenda bersama teman-temannya, mulut Fauzan lancar membaca surat al-Anbiya dengan suara yang tak terlalu keras. Meski tengah berÂpuasa, bocah 12 tahun itu meÂnarÂgetkan bisa merampungkan baÂcaannya hingga 20 kali.
Santri Yayasan Darul Quran Mulia, Gunung Sindur, Bogor itu memilih membaca al-Quran di luar masjid sambil mencari udara segar lantaran di dalam masjid penuh oleh santri lain yang juga tekun membaca al-Quran.
Para santri itu berasal dari 11 lembaga pendidikan al-Quran yang diundang khusus PT PLN (Persero) yang pada bulan RaÂmadhan ini menggelar khataman Al Quran 1.000 kali dalam sehari.
Kegiatan dipusatkan di Masjid Nurul Falah, PLN Distribusi JaÂkarta dan Tangerang (Disjaya) JaÂlan Mohammad Ridwan Rais NoÂmor 1, Gambir, Jakarta Pusat.
Selain Darul Quran, lembaga lain yang turut berpartisipasi di anÂtaranya, Pesantren Yatim dan Dhu’afa Baitul Qur’an Indonesia, Ponpes Darul Hikmah, Boarding School Al-qur’an Center Ummu Habibah Qur’an Center, Al HikÂmah, Rumah Qur’an Al Fawaz, MarÂkaz Qur’an, PPPA, Zaid bin Tsabit Lazis PLN, Markaz Qur’an JDI PLN, dan Ma’had Utsman Bin Affan.
Para pendamping dan panitia memang tak mengharuskan para santri yang mengikuti acara khaÂtaman ini duduk duduk berjejer rapi di dalam masjid. Mereka bisa duduk dimana saja asalkan tetap dengan bacaan al-Qurannya, seÂperti yang dilakukan Fauzan dan teman-temannya itu.
Bahkan, jika sudah pegal kareÂna terlalu lama duduk, tak jarang di antara mereka sambil berdiri atau jalan tapi tetap dengan al-Quran di tangan atau hafalan masing-masing.
Mengenakan busana gamis putih panjang dipadu peci dengan warna sama, posisi santri putra-putri yang rata-rata masih berusia 12-15 tahun, ini dipisah.
Ruang masjid untuk laki-laki, dan perempuan di tenda yang letaknya pas di depan masjid. Di beberapa titik baik di masjid atau di kantor PLN terpasang televisi yang menampilkan kegiatan khataman itu.
Yayasan Darul Quran tercatat mengirimkan peserta terbanyak. Menurut salah satu pengurus SoÂlichan, Yayasannya memÂbeÂrangÂkatkan sekitar 400 santri putra-putri yang didampingi 39 ustadz.
“Ada 10 bis yang disediakan untuk berangkat ke Jakarta. Pukul 03.30 kami berangkat.
AlhamÂduÂlillah tepat adzan subuh tiba di sini,†ujar Solichan kemarin.
Mayoritas dari mereka, ujar Solichan, memang masih dalam tahap penghafalan. “Santri yang sudah hafal 30 juz ada 8 orang. Lainnya masih belasan sampai dua puluhan juz,†ucapnya.
Di antara santri yang hafal 30 juz dan ikut khatam 1.000 kali daÂlam sehari, itu adalah MuÂhamÂmad Alfath. Sejak kelas 1 SD, Alfath suÂdah mulai menghafal ayat-ayat Quran, terutama Juz Amma. Kini hafalan Alfath sudah penuh. “MuÂlai hafal sejak 2 tahun lalu, waktu masih SMP kelas 2,†kata dia.
Acara khataman terbesar dan belum pernah ada dalam sejarah PLN itu dibuka langsung DiÂrekÂtur Utama PLN Dahlan Iskan. Saat pembukaan Dahlan memÂbaÂcakan Alfatihah disambung surat Al Baqarah ayat 1-5. Tak keÂtinggalan istri Dahlan, Nafsiah meÂlanjutkan pada ayat ke 6 hingÂga beberapa lembar lalu secara bersama-sama dibaca bersama para santri dan santriwati.
Untuk memudahkan, panitia khaÂtaman membagi 1.500 santri itu dalam 150 kelompok yang diÂseÂlesaikan dalam 3 tahap. Pada pukul 06.00-12.00 adalah khaÂtaman taÂhap I dengan durasi 6 jam 4 kali khaÂtam dikalikan 150 kelompok.
Khataman tahap II pada pukul 12.30-15.10 dengan 3 waktu jam 2 kali khatam dikalikan 150 keÂlompok. Dan terakhir pukul 15.30-17.15 khataman tahap III yakni 90 menit 1 kali khatam diÂkalikan 150 kelompok
Bagi Dahlan, khataman berÂsama para penghafal Al Quran ini sangatlah penting. Mengapa? Ia bercerita, tanggal 6 Agustus lima tahun lalu, ia menjalani operasi hati.
“Tanggal 6 saya diselamatkan dari bencana yang sangat besar ketika operasi hati. Acara ini seÂkaligus syukuran meminta doa resÂtu untuk tahun yang kelima pasÂca operasi,†ujar Dahlan.
Dia menjelaskan, dalam dunia keÂdokteran, masa kritis cangkok hati berlangsung selama lima tahun perÂtama. Masa kritis yang sangat luar biasa berada di bulan pertama pasca operasi, dimana banyak orang gagal dan akhirnya meninggal.
Kritis kedua terjadi pada tiga bulan pertama. Setelah itu ada masa kritis lagi, satu tahun perÂtama, tiga tahun pertama hingga yang terakhir di lima tahun.
“Kalau sudah lewat lima tahun itu,
rejection atau penolakan baÂdan terhadap hati yang dipasang itu sudah tidak ada masalah lagi. Jadi hati ini sudah pasti klop dengan badan saya,†ucapnya.
Cobaan pria kelahiran Magetan ini tergolong luar biasa. Bermula setelah melakukan perjalanan bisnis panÂjang dari Cina hingga Ambon, DahÂlan mengalami munÂtah darah keÂtika tiba di rumahnya, Surabaya.
Setelah melakukan pengeceÂkan ke dokter dinyatakan bahwa leÂvernya telah sirosis. Bahkan, hati yang rusak itu telah dipenuhi kanker. Dokter pun langsung meÂnyaÂrankan untuk segera melakuÂkan transplantasi hati dalam waktu kurang lebih enam bulan. Jika tidak, maka nyawanya tidak akan tertolong.
Setelah mempertimbangkan cangÂkok hati di beberapa negara, atas saran seorang teman, akhirÂnya ia memilih operasi di salah satu rumah sakit terkenal di Cina.
Tapi sayang rumah sakit itu terÂnyata mengalami kesulitan menÂcari donor hati. Hingga saat itu, belum ada orang yang mau menÂdonorkan hatinya untuk Dahlan. Tanpa terasa waktu telah meÂmasuki bulan ke empat, namun ia belum juga mendapatkan donor hati. Waktu yang tersedia hanya tinggal dua bulan.
Dengan pertimbangan matang, akhirnya ia menerima saran dokÂter rumah sakit untuk memotong limpa. Namun, sekali lagi ini adaÂlah usaha untuk mengulur-ulur waktu sampai tersedia donor hati untuknya.
Di tengah-tengah masa penanÂtian, sering di tengah sepinya maÂlam, ia meneteskan air mata dan mengucapkan rasa syukur kepada Allah karena memiliki istri yang setia. Saat waktu luang, istrinya tak pernah lupa membuka lemÂbaran-lembaran al-Quran dan membacaÂkan ayat-ayat Allah di sampingnya.
Sampai akhirnya tak lama seÂtelah itu, dokter mengabarkan teÂlah mendapatkan donor hati dan operasi cangkok hati Dahlan siap dilakukan dan operasi pun berÂjalan sukses.
Vaksinasi Lebih Murah Daripada TransplantasiPenyakit hati memang terbilang masalah serius di Indonesia. Pengidap penyakit hati kronis mencapai 20 juta jiwa atau sekitar 10 persen dari jumlah penduduk.
Yang lebih mengerikan, seÂbagian besar penderita tidak mÂenyadari bahwa diri mereka adalah
carrier (memiliki virus di tubuhnya tanpa menunÂjukkan gejala sakit).
Padahal, bila seseorang meÂngidap penyakit hati kronis, tdak ada jalan lain bagi dirinya kecuali melakukan transpÂlanÂtasi hati untuk bisa sehat.
“Untuk pengobatan pada peÂnyakit hati yang sudah kroÂnis, di mana liver sudah mengÂkerut, tidak ada jalan lain, ya diganti dengan liver baru,†kata Prof. dr. Suwandhi WidÂjaja SpPD, PhD.
Transplantasi hati pertama kali dilakukan oleh Thomas Starzl di University of ColoÂrado pada tahun 1963. Dua puluh tahun setelah itu, NaÂtional Institutes of Health ConÂcensus Development ConÂÂference pada 1985 menyaÂtaÂkan transplantasi hati seÂbaÂgai tindakan terapeutik yang akan dipergunakan secara luas, bukan lagi tindakan uji coba. Peristiwa ini ditandai sebagai langkah besar dunia kedokteran modern.
Transplantasi hati pada dasarnya mengganti hati yang rusak dengan hati yang sehat. Bisa dari donor
cadaver (maÂyat) maupun dari donor
living (hidup). Jika dilakukan deÂngan baik, tingkat keberÂhaÂsiÂlan transplantasi hati bisa menÂcapai 75-85 persen di taÂhun pertama. Dan apabila seÂtahun pertama pasca transÂplanÂtasi pasien mampu berÂtahan, diharapkan 5-10 tahun pasien tidak akan lagi meÂmiliki hati yang bermasalah.
Di Indonesia, cangkok hati bagi pasien dewasa pertama kali dilakukan pada Desember 2010. Pasien pertama yang menÂjalani tindakan tersebut adalah seseorang berusia 44 taÂhun dengan donor hati dari anakÂnya yang berusia 18 tahun.
Pasien ini mengalami pengeÂrasan hati (sirosis) sehingga hatiÂnya tidak lagi berfungsi dengan baik. Setelah mendapat perseÂtujuan dari keluarga, pada tanggal 13 Desember 2010 proÂses transÂplantasi hati dilakukan dengan mengangkat seluruh hati pasien untuk diganti dengan hati sisi sebelah kanan donor. Yang mengÂgembirakan, saat ini pasien dan donor berada dalam kondisi yang stabil.
Sebelumnya orang Indonesia yang hendak melakukan transÂplanÂtasi hati, harus meÂlÂaÂkuÂkanÂnya di luar negeri mengingat tekÂnologi dan sumber daya manusia di Indonesia masih terbatas.
Biaya cangkok hati ini juga mahal. Di Cina berkisar Rp 500-550 juta. Di Jepang Rp 900 juta-1 miliar. Di Singapura Rp 1,1 miÂliar. Sementara di Amerika, diÂmana transplantasi hati dilakukan 5.000 kasus setiap tahunnya, biayanya lebih mahal lagi.
Di Indonesia, dengan merujuk kepada RSCM, biaya transplanÂtasi hati mencapai Rp 1 miliar. Untuk ke depannya, pihak RSCM mengupayakan biaya ini dapat ditekan hingga jadi Rp 600-700 juta. Penyakit hati kronis bukan tidak bisa dicegah. Melalui pemÂberian imunisasi, kita bisa menÂcegah penyakit yang tak ada obatnya ini.
Saat ini obat hepatitis yang ada masih cukup mahal. Dahlan Iskan berpesan, vaksinasi adalah cara paling murah dan mudah mencegah tertularnya virus hepatitis, terutama pada bayi yang baru lahir.
“Ada 1 obat hepatitis yang baru ada di New York. Satu pil harÂganya Rp 120 ribu dan sehari haÂrus makan 6 pil. Kalau saya baca literaturnya memang akan langÂsung beroperasi pada DNA virusÂnya. Tapi tetap saja vaksinasi adalah cara yang paling murah,†tutur Dahlan.
[rm]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google