Ribuan Santri Khatam-kan Quran Seribu Kali Sehari

Syukuran 5 Tahun Cangkok Hati Dahlan Iskan

Senin, 08 Agustus 2011, 07:37 WIB
Ribuan Santri Khatam-kan Quran Seribu Kali Sehari
Ribuan Santri Khatam-kan Quran
RMOL. Mengaji dan mengkhatamkan al-Quran secara bersama-sama sebanyak 2-3 kali selama bulan Ramadhan mungkin sudah menjadi rutinitas biasa. Tapi, jika dalam sehari bisa khatam 1.000 kali, apa mungkin?

Fauzan Muhammad tampak anteng memegang al-Qurannya yang hanya seukuran dompet itu. Duduk di kursi lipat dekat tenda bersama teman-temannya, mulut Fauzan lancar membaca surat al-Anbiya dengan suara yang tak terlalu keras. Meski tengah ber­puasa, bocah 12 tahun itu me­nar­getkan bisa merampungkan ba­caannya hingga 20 kali.

Santri Yayasan Darul Quran Mulia, Gunung Sindur, Bogor itu memilih membaca al-Quran di luar masjid sambil mencari udara segar lantaran di dalam masjid penuh oleh santri lain yang juga tekun membaca al-Quran.

Para santri itu berasal dari 11 lembaga pendidikan al-Quran yang diundang khusus PT PLN (Persero) yang pada bulan Ra­madhan ini menggelar khataman Al Quran 1.000 kali dalam sehari.

Kegiatan dipusatkan di Masjid Nurul Falah, PLN Distribusi Ja­karta dan Tangerang (Disjaya) Ja­lan Mohammad Ridwan Rais No­mor 1, Gambir, Jakarta Pusat.

Selain Darul Quran, lembaga lain yang turut berpartisipasi di an­taranya, Pesantren Yatim dan Dhu’afa Baitul Qur’an Indonesia, Ponpes Darul Hikmah, Boarding School Al-qur’an Center Ummu Habibah Qur’an Center, Al Hik­mah, Rumah Qur’an Al Fawaz, Mar­kaz Qur’an, PPPA, Zaid bin Tsabit Lazis PLN, Markaz Qur’an JDI PLN, dan Ma’had Utsman Bin Affan.

Para pendamping dan panitia memang tak mengharuskan para santri yang mengikuti acara kha­taman ini duduk duduk berjejer rapi di dalam masjid. Mereka bisa duduk dimana saja asalkan tetap dengan bacaan al-Qurannya, se­perti yang dilakukan Fauzan dan teman-temannya itu.

Bahkan, jika sudah pegal kare­na terlalu lama duduk, tak jarang di antara mereka sambil berdiri atau jalan tapi tetap dengan  al-Quran di tangan atau hafalan masing-masing.

Mengenakan busana gamis putih panjang dipadu peci dengan warna sama, posisi santri putra-putri yang rata-rata masih berusia 12-15 tahun, ini dipisah.

Ruang masjid untuk laki-laki, dan perempuan di tenda yang letaknya pas di depan masjid. Di beberapa titik baik di masjid atau di kantor PLN terpasang televisi yang menampilkan kegiatan khataman itu.

Yayasan Darul Quran tercatat mengirimkan peserta terbanyak. Menurut salah satu pengurus So­lichan, Yayasannya mem­be­rang­katkan sekitar 400 santri putra-putri yang didampingi 39 ustadz.

“Ada 10 bis yang disediakan untuk berangkat ke Jakarta. Pukul 03.30 kami berangkat. Alham­du­lillah tepat adzan subuh tiba di sini,” ujar Solichan kemarin.

Mayoritas dari mereka, ujar Solichan, memang masih dalam tahap penghafalan. “Santri yang sudah hafal 30 juz ada 8 orang. Lainnya masih belasan sampai dua puluhan juz,” ucapnya.

Di antara santri yang hafal 30 juz dan ikut khatam 1.000 kali da­lam sehari, itu adalah Mu­ham­mad Alfath. Sejak kelas 1 SD, Alfath su­dah mulai menghafal ayat-ayat Quran, terutama Juz Amma. Kini hafalan Alfath sudah penuh. “Mu­lai hafal sejak 2 tahun lalu, waktu masih SMP kelas 2,” kata dia.

Acara khataman terbesar dan belum pernah ada dalam sejarah PLN itu dibuka langsung Di­rek­tur Utama PLN Dahlan Iskan. Saat pembukaan Dahlan mem­ba­cakan Alfatihah disambung surat Al Baqarah ayat 1-5. Tak ke­tinggalan istri Dahlan, Nafsiah me­lanjutkan pada ayat ke 6 hing­ga beberapa lembar lalu secara bersama-sama dibaca bersama para santri dan santriwati.

Untuk memudahkan, panitia kha­taman membagi 1.500 santri itu dalam 150 kelompok yang di­se­lesaikan dalam 3 tahap. Pada pukul 06.00-12.00 adalah kha­taman ta­hap I dengan durasi 6 jam 4 kali kha­tam dikalikan 150 kelompok.

Khataman tahap II pada pukul 12.30-15.10 dengan 3 waktu jam 2 kali khatam dikalikan 150 ke­lompok. Dan terakhir pukul 15.30-17.15 khataman tahap III yakni 90 menit 1 kali khatam di­kalikan 150 kelompok

Bagi Dahlan, khataman ber­sama para penghafal Al Quran ini sangatlah penting. Mengapa? Ia bercerita, tanggal 6 Agustus  lima tahun lalu, ia menjalani operasi hati.

“Tanggal 6 saya diselamatkan dari bencana yang sangat besar ketika operasi hati. Acara ini se­kaligus syukuran meminta doa res­tu untuk tahun yang kelima pas­ca operasi,” ujar Dahlan.

Dia menjelaskan, dalam dunia ke­dokteran, masa kritis cangkok hati berlangsung selama lima tahun per­tama. Masa kritis yang sangat luar biasa berada di bulan pertama pasca operasi, dimana banyak orang gagal dan akhirnya meninggal.

Kritis kedua terjadi pada tiga bulan pertama. Setelah itu ada masa kritis lagi, satu tahun per­tama, tiga tahun pertama hingga yang terakhir di lima tahun.

“Kalau sudah lewat lima tahun itu, rejection atau penolakan ba­dan terhadap hati yang dipasang itu sudah tidak ada masalah lagi. Jadi hati ini sudah pasti klop dengan badan saya,” ucapnya.

Cobaan pria kelahiran Magetan ini tergolong luar biasa. Bermula setelah melakukan perjalanan bisnis pan­jang dari Cina hingga Ambon, Dah­lan mengalami mun­tah darah ke­tika tiba di rumahnya, Surabaya.

Setelah melakukan pengece­kan ke dokter dinyatakan bahwa le­vernya telah sirosis. Bahkan, hati yang rusak itu telah dipenuhi kanker. Dokter pun langsung me­nya­rankan untuk segera melaku­kan transplantasi hati dalam waktu kurang lebih enam bulan. Jika tidak, maka nyawanya tidak akan tertolong.

Setelah mempertimbangkan cang­kok hati di beberapa negara, atas saran seorang teman, akhir­nya ia memilih operasi di salah satu rumah sakit terkenal di Cina.

Tapi sayang rumah sakit itu ter­nyata mengalami kesulitan men­cari donor hati. Hingga saat itu, belum ada orang yang mau men­donorkan hatinya untuk Dahlan. Tanpa terasa waktu telah me­masuki bulan ke empat, namun ia belum juga mendapatkan donor hati. Waktu yang tersedia hanya tinggal dua bulan.

Dengan pertimbangan matang, akhirnya ia menerima saran dok­ter rumah sakit untuk memotong limpa. Namun, sekali lagi ini ada­lah usaha untuk mengulur-ulur waktu sampai tersedia donor hati untuknya.

Di tengah-tengah masa penan­tian, sering di tengah sepinya ma­lam, ia meneteskan air mata dan mengucapkan rasa syukur kepada Allah karena memiliki istri yang setia. Saat waktu luang, istrinya tak pernah lupa membuka lem­baran-lembaran al-Quran dan membaca­kan ayat-ayat Allah di sampingnya.

Sampai akhirnya tak lama se­telah itu, dokter mengabarkan te­lah mendapatkan donor hati dan operasi cangkok hati Dahlan siap dilakukan dan operasi pun ber­jalan sukses.

Vaksinasi Lebih Murah Daripada Transplantasi

Penyakit hati memang terbilang masalah serius di Indonesia. Pengidap penyakit hati kronis mencapai 20 juta jiwa atau sekitar 10 persen dari jumlah penduduk.

Yang lebih mengerikan, se­bagian besar penderita tidak m­enyadari bahwa diri mereka adalah carrier (memiliki virus di tubuhnya tanpa menun­jukkan gejala sakit).

Padahal, bila seseorang me­ngidap penyakit hati kronis, tdak ada jalan lain bagi dirinya kecuali melakukan transp­lan­tasi hati untuk bisa sehat.

“Untuk pengobatan pada pe­nyakit hati yang sudah kro­nis, di mana liver sudah meng­kerut, tidak ada jalan lain, ya diganti dengan liver baru,” kata Prof. dr. Suwandhi Wid­jaja SpPD, PhD.

Transplantasi hati pertama kali dilakukan oleh Thomas Starzl di University of Colo­rado pada tahun 1963. Dua puluh tahun setelah itu, Na­tional Institutes of Health Con­census Development Con­­ference pada 1985 menya­ta­kan transplantasi hati se­ba­gai tindakan terapeutik yang akan dipergunakan secara luas, bukan lagi tindakan uji coba. Peristiwa ini ditandai sebagai langkah besar dunia kedokteran modern.

Transplantasi hati pada dasarnya mengganti hati yang rusak dengan hati yang sehat. Bisa dari donor cadaver (ma­yat) maupun dari donor living (hidup). Jika dilakukan de­ngan baik, tingkat keber­ha­si­lan transplantasi hati bisa men­capai 75-85 persen di ta­hun pertama. Dan apabila se­tahun pertama pasca trans­plan­tasi pasien mampu ber­tahan, diharapkan 5-10 tahun pasien tidak akan lagi me­miliki hati yang bermasalah.

Di Indonesia, cangkok hati bagi pasien dewasa pertama kali dilakukan pada Desember 2010. Pasien pertama yang men­jalani tindakan tersebut adalah seseorang berusia 44 ta­hun dengan donor hati dari anak­nya yang berusia 18 tahun.

Pasien ini mengalami penge­rasan hati (sirosis) sehingga hati­nya tidak lagi berfungsi dengan baik. Setelah mendapat perse­tujuan dari keluarga, pada tanggal 13 Desember 2010 pro­ses trans­plantasi hati dilakukan dengan mengangkat seluruh hati pasien untuk diganti dengan hati sisi sebelah kanan donor. Yang meng­gembirakan, saat ini pasien dan donor berada dalam kondisi yang stabil.

Sebelumnya orang Indonesia yang hendak melakukan trans­plan­tasi hati, harus me­l­a­ku­kan­nya di luar negeri mengingat tek­nologi dan sumber daya manusia di Indonesia masih terbatas.

Biaya cangkok hati ini juga mahal. Di Cina berkisar Rp 500-550 juta. Di Jepang Rp 900 juta-1 miliar. Di Singapura Rp 1,1 mi­liar. Sementara di Amerika, di­mana transplantasi hati dilakukan 5.000 kasus setiap tahunnya, biayanya lebih mahal lagi.

Di Indonesia, dengan merujuk kepada RSCM, biaya transplan­tasi hati mencapai Rp 1 miliar. Untuk ke depannya, pihak RSCM mengupayakan biaya ini dapat ditekan hingga jadi Rp 600-700 juta. Penyakit hati kronis bukan tidak bisa dicegah. Melalui pem­berian imunisasi, kita bisa men­cegah penyakit yang tak ada obatnya ini.

Saat ini obat hepatitis yang ada masih cukup mahal. Dahlan Iskan berpesan, vaksinasi adalah cara paling murah dan mudah mencegah tertularnya virus hepatitis, terutama pada bayi yang baru lahir.

“Ada 1 obat hepatitis yang baru ada di New York. Satu pil har­ganya Rp 120 ribu dan sehari ha­rus makan 6 pil. Kalau saya baca literaturnya memang akan lang­sung beroperasi pada DNA virus­nya. Tapi tetap saja vaksinasi adalah cara yang paling murah,” tutur Dahlan.   [rm]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA