“Ponakan saya sudah tiga taÂhun ini nggak ada kabar. Padahal, daÂlam kontraknya dia hanya beÂkerja selama dua tahun,†katanya.
Lelaki itu berharap BNP2TKI secepatnya bisa mendapatkan informasi mengenai keberadaan keponakannya. “Saya kasihan sama anaknya karena tiap hari selalu tanya ayahnya.â€
Begitulah suasana tempat peÂngaÂduan TKI yang terletak di seÂbeÂlah kiri Gedung BNP2TKI. Tempat pengaduan TKI menemÂpati gedung satu lantai berukuran 20 x 10 meter. “Pelayanan PeÂngaÂduan TKI (Crisis Center) BNP2ÂTKIâ€, begitulah nama resminya, seperti ditulis di depan gedung.
Di halaman disediakan kursi besi panjang yang mampu meÂnamÂpung 30 orang. Di sinilah TKI atau keluarga TKI meÂnunggu giliran. Hari itu, ada 10 orang yang ingin memanfaatkan pelayanan yang disediakan lembaga yang dipimpin Jumhur Hidayat ini.
Pintu kaca warna gelap dalam keadaan terbuka karena dibuat untuk lalu lalang tamu. Di belaÂkang pintu masuk ditempatÂkan meja resepsionis dengan satu peÂtugas keamanan. Sebelum meÂngambil nomor urut antrean, tamu harus melapor kepada petugas keamanan.
Di samping meja resepsionis ada pamflet bertulisan “Halo TKI Nomor Telepon 08001000†deÂngan
back ground Kepala BNP2TKI Jumhur Hidayat.
Di depan maja resepsionis disediakan 20 kursi untuk tempat duduk tamu, yang hari itu diduÂduki tiga tamu. Di dinding ruaÂngan diletakkan petunjuk meÂngenai alur proses pelayanan peÂngaduan TKI.
LCD TV sebesar 32 inci ditemÂpatkan di ruang tunggu untuk menghibur tamu agar tidak jenuh selama menunggu giliran.
Di samping kiri dan belakang kursi tunggu disediakan dua ruangan untuk mediasi. Masing-masing ruangan berukuran 2 x 4 meter dengan fasilitas meja dan empat kursi.
Dua kursi untuk petugas BNP2ÂTKI dan dua kursi diperÂgunakan untuk tempat duduk peÂngaÂdu. Di ruang mediasi satu suÂdah ada dua orang, satu di anÂtaraÂnya pengelola PJTKI yang juga sedang mengadukan masalahnya.
Untuk tempat pengaduan TKI melalui tatap muka mengabil temÂpat dibelakang meja resepÂsioÂnis. Tempat ini dibatasi kaca. MeÂmaÂsuki ruang pengaduan ada seÂkat yang bisa menampung empat orang. Di tempat pengaÂduan terdaÂpat satu tamu yang sedang meÂngaÂduÂkan masalahnya kepada petugas.
Masuk ruangan lebih dalam digunakan untuk tempat validasi. Ruangan berukurn 6 x 15 meter ini berisi delapan bilik ini berÂfungsi sebagai penerima data peÂngaÂduan melalui tatap muka mauÂpun pengaduan melalui telepon.
Di ruangan validasi ini diseÂdiaÂkan LCD TV sebesar 32 inci yang ditempelkan di dinding dengan tampilan jumlah laporan pÂeÂngaÂduan yang masuk di BNP2TKI.
Masuk lebih dalam terdapat ruang khusus untuk
call center, yang dibagi menjadi 16 bilik. Ada satu petugas penerima teleÂpon di setiap bilik dengan mengÂgunakan earphone dan satu LCD monitor.
Pagi itu, hanya ada beberapa petugas yang terlihat sibuk meÂneÂrima telepon. Tempat tersebut nampak terang dengan dua penÂdingin ruangan yang cukup nyaÂman membuat petugas betah berÂlama-lama di tempat ini.
Konsultan Call Center TKI, Hilman, mengatakan, teknologi informasi yang digunakan untuk Call Center TKI adalah teknologi terbaru, setara dengan call center yang digunakan di sejumlah perusahaan telekomunikasi.
“Kalau call center perusahaan
kan gampang mengÂiÂdÂenÂtifiÂkasiÂnya karena pasti dia berasal dari pelanggan perusahaan itu, tapi kalau di sini tidak tahu identitas orang yang menelepon,†katanya.
BNP2TKI bekerja sama deÂngan PT Telkom dalam hal pelaÂyanan jaringan telekomunikasi. Perusahaan telekomunikasi milik pemerintah itu menyediakan layanan telepon yang bisa diakses oleh 100 penelepon setiap satu kali akses.
Sejak berdiri, Call Center TKI Juni lalu, setiap hari ada leÂbih dari seÂribu hacker yang mencoba mengÂÂganggu sistem call center ini. Mereka berasal dari Cina dan India.
“Namun gangguan tersebut bisa diatasi dengan baik dan tidak sampai merusak sistem yang ada karena kami menggunakan jarÂingan pengamanan yang canggih dan terbaru,†jelas Hilman.
Dua Anak Kecil Diarahkan Ke Tempat PenampunganKoordinator Call Center TKI, Kustomo Usman, meÂngaÂtakan, pengaduan call center dibuÂka selama 24 jam.
“Kami tidak mengenal hari liÂbur dan tanggal merah, setiap hari masuk untuk menerima pengaÂduÂan,†katanya. TKI yang ingin meÂngadukan masalah ke call center bisa menelepon ke nomor “Halo TKI 0800 1000'’ bebas pulsa yang dapat diakses dari seluruh InÂdonesia, baik melalui telepon rumah maupun telepon seluler.
Selain di nomor tersebut, kata KusÂtomo, call center BNP2TKI juga melayani pengaduan berupa SMS di nomor 7266 tanpa dikenai biaya.
Pengaduan SMS ke nomor 7266 milik Call Center BNP2ÂTKI. “Semua biaya telepon dan SMS ditangÂgung dengan angÂgaÂran negara yang ada di BNP2ÂTKI,†ujarnya.
Call center BNP2TKI, lanjutÂnya, juga menerima pengaduan langÂsung (tatap muka), atau bisa melalui faksimili di nomor (021) 7981205, surat-menyurat ke alaÂmat call center BNP2TKI yang beralamat di Jalan MT Haryono Kav 52, Pancoran, Jakarta SelaÂtan, serta surat elektronik (email) ke
[email protected].
Untuk pengaduan telepon dari luar negeri dapat menggunakan noÂmor telepon +6221 29244800 namun tidak bebas pulsa. Hal yang sama berlaku untuk pengaÂduan SMS ke nomor 7266 dari luar negeri
Untuk melayani pengaduan TKI, kata pria yang mengÂguÂnaÂkan kacamata ini mengatakan, piÂhaknya diperkuat oleh 52 peÂtuÂgas call center yang akan berjaga seÂpanjang hari dengan sistem shift.
Kustomo menceritakan, bebeÂrapa waktu lalu ada dua calon TeÂnaga Kerja Wanita (TKW) yang berumur 15 tahun dan 17 tahun yang berasal dari Sumbawa diseÂkap oleh Perusahaan Pelaksana Penempatan TKI swasta (PPTKIS) yang berada di kawasan Condet, Jakarta, selama beberapa hari.
Setelah itu, dua anak ini kabur dari PPTKIS dan pergi mengÂguÂnakan bus ke arah Bogor, Jawa BaÂrat. Sampai di tempat tersebut dilanjutkan ke Pulogadung, JaÂkarta Timur, dan tiba di terminal tersebut pada pukul 21.00 WIB.
“Karena kebingungan akhirnya mereka menelepon call center TKI,†jelas Kustomo.
Setelah menelopon akhirnya petugas call center mengarahkan mereka berdua untuk menginap sementara di tempat penamÂpungan sementara Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Jalan PeÂnganÂten Ali, Ciracas, Jakarta Timur, agar aman dari kejahatan.
Habiskan Rp 4 Miliar, Ada Karena Amanat Presiden SBYKepala BNP2TKI Jumhur Hidayat mengatakan, anggaran pembuatan layanan Call Center TKI menghabiskan anggaran Rp 4 miliar. Anggaran tersebut berÂÂasal dari Anggaran PendaÂpaÂtan dan Belanja Negara (APBN).
“Biaya tersebut sangat murah dibanding dengan biaya pemÂbuatan call center sejenis di peÂrusÂahaan lain,†katanya.
Adanya call center ini, kata JumÂhur. bertujuan untuk memÂperÂcepat akses pengaduan TKI yang bermasalah agar bisa maÂsalahnya bisa secepatnya diÂtaÂngaÂni. “Kalau lapornya cepat, kan diselesaikannya juga cepat.â€
Sebelum adanya call center ini, pengaduan TKI memakan waktu yang sangat lama karena sebelum sampai di BNP2TKI, TKI harus melapor terlebih daÂhulu ke kepala desa, camat, kaÂpolsek kemudian diteruskanke dinas tenaga kerja. Terakhir, laÂpoÂran disampaikan ke bupati. Dari bupati baru ke BNP2TKI.
“Ini bisa memakan waktu berÂbulan-bulan. Kalau ada
call center kan bisa langsur lapor dan saat itu juga ditangani,†katanya.
Ide awal dibentuknya call cenÂter berasal dari amanat PreÂsiden Susilo Bambang YudhoÂyoÂno yang meminta pelayanan dan perlindungan TKI dilakuÂkan secara baik dan cepat.
Menurut dia, pembentukan call center ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan kasus Ruyati yang pada Juni lalu diÂhuÂkum pancung di Arab Saudi. “Call center ini sudah direncaÂnaÂkan sejak tahun 2008, yang sebelumnya bernama crisis cenÂter.†Sejak diresmikan pada 27 Juni 2011, hingga 4 Juli ini, sudah masuk lebih dari 36.967 telepon. Dari jumlah tersebut, 12.860 telepon diterima petuÂgas, sedangkan sisanya, 24.107, masuk dalam antrean telepon.
Jumhur menjelaskan, dari 12.860 yang berhasil diterima petugas, 3.808 penelepon tidak menjawab apa-apa, 1.957 peneÂlepon menjelaskan masalahnya, dan 3.656 minta informasi.
Dia menambahkan, komuniÂkasi terputus ada1. 466 telepon, sisanya, 1.973 penelepon, tidak jelas maksudnya. “Ada yang menÂcoba merayu petugas atau ada juga cuma iseng saja untuk mengecek call center tersebut.â€
Mayoritas penelepon, 10.132 orang, menggunakan
handÂphoÂne. Yang menggunakan telepon rumah 634 orang, telepon dari luar negeri sebanyak 287, dan tidak dikenal karena mengÂgunakan
private number 1.807 penelepon.
Dari ribuan pengaduan yang masuk, BNP2TKI mengÂklasifikasikannya menjadi 610 kasus. Dari jumlah itu mayoritas pengadunya berasal dari Arab Saudi 348 kasus, kemudian diÂsusul Malaysia 84 kasus, dan sisanya berasal dari negara lain.
Sebagian besar pengaduan adalah mengenai putusnya hubungan komunikasi dengan keluarga yang berada di luar negeri (298 kasus) dan gaji tidak dibayar (123 kasus).
Selama ini BNP2TKI menÂdaÂpat anggaran dari APBN seÂbaÂnyak Rp 250 miliar setiap taÂhunÂnya. “Anggaran tersebut suÂdah cukup dan kita optiÂmalÂkan untuk memberi perlinÂdungan kepada TKI,†tambah Jumhur.
[rm]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google