Sekarang, ijazah menjelma menjadi makhluk mistis. Semua orang membicarakannya, semua orang mencarinya, tapi kemunculannya selalu ditunggu seperti pocong, kuntilanak, atau emas 74 kg yang raib.
Bab pertama dimainkan sang ayah. Bertahun-tahun, sejak masih menjadi presiden sampai kini sudah lengser, urusan ijazah Jokowi masih mondar-mandir di pengadilan.
Kasusnya seperti sinetron yang sutradaranya takut tamat. Penonton sudah bosan, tetapi episode baru selalu muncul.
Rating mungkin turun, tapi rasa penasaran tetap hidup. Eh, belum sempat kredit penutup muncul, semesta langsung meluncurkan sekuelnya.
Kini giliran anaknya, Gibran Rakabuming Raka. Warganet langsung berteriak, "Lanjutkan!" Seolah-olah keluarga ini mendapat warisan turun-temurun berupa serial berjudul "Petualangan Mencari Ijazah."
Selasa 28 Juli 2026, Jalan Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, berubah menjadi panggung teater paling absurd di republik ini.
Sekelompok emak-emak dari Aliansi Rakyat Menggugat (ARM) datang bukan membawa proposal, bukan meminta bansos, apalagi kupon sembako. Mereka hanya membawa satu permintaan sederhana.
"Tunjukin ijazah."
Presidium ARM, Menu Wulandari menyampaikan kalimat terdengar seperti trailer film horor. "Kami tidak akan menuntut apa-apa. Tapi kami hanya minta, tunjukin dong ijazahnya. Jangan sampai nanti ada ijazah gaib jilid dua."
Nah, ini dia. Begitu frasa "ijazah gaib jilid dua" muncul, netizen langsung mendapat bahan bakar untuk seminggu penuh.
Kalau ada jilid dua, berarti nanti ada jilid tiga, empat, lima, sampai crossover dengan "Surat Sakti yang Hilang."
Di tengah keramaian itu hadir pula Roy Suryo. Si Roy seperti menjiwai kalau soal ijazah ini.
Meski saat itu berstatus tersangka dalam perkara dugaan penyebaran informasi terkait ijazah Presiden Jokowi, ia tetap tampil penuh semangat.
"Kami tetap bersama di dalam memperjuangkan kepalsuan dari ijazah Jokowi dan ijazah Gibran."
Kalimat itu membuat suasana terasa seperti konferensi penggemar serial yang belum rela tokoh utamanya pensiun.
Massa ingin berorasi tepat di depan kantor Wakil Presiden. Namun polisi, termasuk Polwan, menghadang sebelum mereka tiba. Lalu dimulailah babak lebih dramatis dari final voli Timnas vs Kamboja.
Speaker demonstran diamankan petugas. Rasanya seperti konser rock mendadak dicabut kabel listriknya. Salah satu koordinator aksi kemudian duduk di tengah jalan melakukan blokade.
Emak-emak dan Polwan saling dorong. Untung tidak ada wasit meniup peluit. Kalau ada komentator sepak bola, mungkin sudah berteriak, "Benturannya keras, tetapi bola... eh, maksudnya ijazah... masih belum terlihat!"
Semua ini terjadi di tengah gelombang demonstrasi Juli 2026 bertajuk "Mosi Tidak Percaya" terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.
Di berbagai daerah, orang membawa macam-macam tuntutan. Namun di Kebon Sirih, fokusnya cuma satu. Ijazah. Selembar dokumen yang kini popularitasnya mengalahkan artis, influencer, bahkan pemain Timnas.
Lalu publik kembali membuka album lama. Riwayat sekolah Gibran di Orchid Park Secondary School Singapura, UTS Insearch Sydney, isu penyetaraan hingga gugatan perdata kembali diputar seperti lagu yang tak pernah keluar dari daftar putar.
Sampai kini, berdasarkan laporan
Kompas TV pada 28-29 Juli 2026, belum ada tanggapan resmi dari Istana Wakil Presiden maupun Gibran terkait aksi tersebut.
Akhirnya, rakyat kembali pulang membawa satu pertanyaan sama. Bukan soal untung dua triliun penggilingan padi, bukan antre mengular di SPBU, apalagi hattrick Mitchell Lee Baker.
Melainkan pertanyaan yang sudah berevolusi menjadi legenda nasional. "Besok episode ijazah tayang lagi jam berapa?"
“Bang, yang demo begitu ada ndak amplopnya?”
“Tak tahu juga sih, wak. Lihat penampilan mereka, kayaknya orang berduit semua yang demo.” Ups
Rosadi JamaniMantan Wartawan
BERITA TERKAIT: