100 Tahun Rarud Batur: Ketika Lava Tak Mampu Menghapus Peradaban

Jumat, 24 Juli 2026, 21:19 WIB
100 Tahun Rarud Batur: Ketika Lava Tak Mampu Menghapus Peradaban
Kawasan black lava dengan latar belakang Gunung Batur. (Foto: RMOL)
Kecil Besar
SERATUSAN  tahun lalu, lahar pijar Gunung Batur menghapus Desa Adat Batur, Bali, dari peta. Permukiman, pura, hingga jejak kehidupan masyarakat tertimbun tanpa bekas. 

Namun, ada satu hal yang tak ikut terkubur bersama lava: tekad masyarakat mempertahankan peradaban yang diwariskan leluhur.

Kala itu, Desa Adat Batur beserta Pura Ulun Danu Batur berdiri di kaki barat daya Gunung Batur. Letusan besar pada 1926 meluluhlantakkan permukiman dan tempat ibadah masyarakat. Kini, kawasan bekas Desa Batur dikenal sebagai Black Lava Batur, bentang alam yang menjadi saksi bisu kedahsyatan letusan seabad silam.

Di tengah kepanikan, masyarakat Batur bersama Batun Sendi, Bogolan (narapidana), serta tentara melakukan evakuasi besar-besaran. Mereka berupaya menyelamatkan apa pun yang masih tersisa, mulai dari masyarakat, benda-benda suci, hingga warisan budaya yang menjadi penopang kehidupan Desa Adat Batur.

Saat Lava Menenggelamkan Peradaban

Sekitar 1921 hingga 1926, aktivitas vulkanik Gunung Batur terus meningkat. Selama lima tahun gunung itu berulang kali mengalami erupsi. Puncaknya terjadi pada 1926 ketika letusan terbesar memuntahkan aliran lava pijar yang menenggelamkan seluruh peradaban Desa Batur.

Tak berhenti sampai di situ, setelah dihantam lahar panas masyarakat Batur berupaya menyelamatkan diri dengan mengungsi ke tempat yang lebih aman, bahkan hingga ke kabupaten-kabupaten tetangga. Tragedi itu tidak hanya merenggut kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, tetapi juga menghancurkan palinggih serta sejumlah pura besar yang kemudian harus dibangun kembali pascaerupsi Gunung Batur, seperti Pura Pasar Agung, Pura Prapen Pingit, dan Pura Rejeng Anyar.

Namun, letusan itu bukan akhir dari kisah masyarakat Batur. Di atas tanah yang pernah diluluhlantakkan lava, kehidupan perlahan tumbuh kembali. Masyarakat mulai membangun permukiman baru, menghidupkan kembali aktivitas adat, dan merawat warisan yang masih bisa diselamatkan.

Bangkit dari Letusan

Alih-alih terpuruk setelah letusan 1926, kawasan Batur justru melahirkan dua situs penting yang diakui dunia, yakni UNESCO Global Landscape Subak dan UNESCO Global Geopark. Pengakuan tersebut menjadi salah satu pemantik berkembangnya kawasan Batur sebagai destinasi wisata.

Bertahun-tahun masyarakat Batur berjuang membangun kembali kehidupan. Mereka tidak hanya memulai peradaban baru, tetapi juga mempertahankan sisa-sisa sejarah yang masih dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Jro Penyarikan Duuran Batur, I Ketut Eriadi, mengatakan tahun ini menjadi tepat satu abad sejak peristiwa dahsyat itu terjadi. Masyarakat Batur akan memperingati letusan salah satu gunung terbesar di Bali melalui rangkaian kegiatan bertajuk Peringatan 100 Tahun Rarud Batur dalam Batur Village Festival yang akan digelar pada 2-8 Agustus 2026.

Peringatan itu menjadi pengingat atas peristiwa kelam pada September 1926 ketika erupsi Gunung Batur meluluhlantakkan kehidupan dan peradaban di kaki gunung tersebut.

Kawasan kaldera Batur dihuni sejumlah desa adat dan permukiman masyarakat. Di dalam kaldera utama terdapat enam desa adat. Sementara di kaldera kedua terdapat 15 desa. Dalam konteks Desa Adat Batur sendiri terdapat tiga desa dinas.

Bertahan dengan Tradisi Ngalu

Dari pengamatannya, Jro Penyarikan Duuran Batur, I Ketut Eriadi Arsana, menyebut sumber mata pencaharian masyarakat berkembang semakin beragam sejak letusan besar seabad silam. Meski banyak sumber daya hilang akibat erupsi, berbagai potensi ekonomi baru justru muncul dan dimanfaatkan masyarakat di sekitar Gunung Batur, mulai dari sektor perikanan, pertanian, hingga pariwisata.

Masyarakat Batur juga mengenal tradisi ngalu atau berdagang. Mata pencaharian itu kemudian menjadi salah satu ciri khas masyarakat dalam bertahan sekaligus melanjutkan kehidupan setelah bencana. Tak heran jika berkunjung ke kawasan Batur, banyak warga yang menggantungkan hidup dengan berdagang kain, buah-buahan, hingga menjajakan aneka cendera mata khas Batur.

“Itu menjadi salah satu ciri Batur,” ujar Jro Penyarikan.

Menjaga Peradaban di Tengah Tantangan Baru

Seabad setelah letusan, tantangan masyarakat Batur tak lagi hanya soal bangkit dari bencana. Mereka kini juga harus menghadapi persaingan dengan investor dari luar, sekaligus persoalan tata ruang yang dinilai turut memengaruhi upaya menjaga peradaban dan kawasan kultural Batur.

Menurut Jro Penyarikan, masyarakat adat tidak terlalu mengkhawatirkan lahan yang berada di bawah pengelolaan desa adat. Persoalan justru muncul pada lahan milik pemerintah maupun perseorangan yang berada di luar kewenangan desa adat. Kondisi itu menjadi tantangan dalam menjaga kawasan budaya yang harus terus diperkuat melalui sektor ekonomi.

Ia menyoroti kawasan-kawasan yang tidak berada dalam pengelolaan desa adat, baik yang dikelola pemerintah maupun pihak pribadi, karena memunculkan persoalan baru. Sejumlah situs milik Desa Adat Batur berada di kawasan milik pemerintah yang kini dikelola pihak swasta melalui Taman Wisata Alam Gunung Batur. Situs-situs tersebut di antaranya Pura Pal Saraswati Batur, Pura Prapen Pingit, Pura Rejenganyar, Pura Janthi, Pura Pelisan, serta beberapa kawasan suci lainnya.

“Batur sangat rapuh jika dijaga sendirian dalam hal ini masyarakat adat. Akan rapuh secara sumber daya, kami hanya disodori menjaga lingkungan tanpa diberikan visa tambahan. Harus ada kerjasama memanfaatkan ruang-ruang pariwisata,” tegas Jro Penyarikan Duuran Adat.

Regenerasi Menjadi Tantangan

Jro Penyarikan menilai perjuangan menjaga peradaban Batur tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat adat, melainkan seluruh masyarakat Bali. Semangat para pendahulu dalam merawat warisan budaya, termasuk kawasan konservasi Pura Ulun Danu Batur, harus terus dilanjutkan, terutama oleh generasi muda.

Di sisi lain, masyarakat Batur juga dihadapkan pada tantangan regenerasi. Tak sedikit generasi muda memilih merantau ke luar daerah demi memperoleh kehidupan yang lebih sejahtera secara finansial. Bahkan, banyak di antaranya memilih bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) karena dinilai menawarkan kepastian yang lebih baik.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para tokoh adat di Batur. Mereka harus terus melakukan berbagai pendekatan agar warisan budaya dan nilai-nilai kultural yang tersisa tetap terjaga serta dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Satu Abad Menjaga Warisan Leluhur

Di sisi lain, Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Rarud Batur, Guru Nengah Santika, mengatakan September 2026 menjadi penanda genap satu abad erupsi besar Gunung Batur. Baginya, peringatan itu bukan sekadar mengenang letusan salah satu gunung terbesar di Bali, melainkan bentuk penghormatan terhadap semangat gotong royong para leluhur yang berhasil menyelamatkan masyarakat, benda-benda suci, dan keberlangsungan peradaban Desa Adat Batur.

Menurutnya, tanpa solidaritas antardesa adat dan masyarakat saat itu, bukan tidak mungkin seluruh peradaban Batur telah hilang bersama lahar panas yang menyapu kawasan tersebut.

“Namun, proses membangun desa kembali tidak otomatis mengembalikan seluruh warisan budaya yang pernah dimiliki. Proses berat itu yang dilalui para pendahulu kami,” kata Guru Nengah Santika.

Ritual yang Hilang Bersama Letusan

Guru Nengah Santika menuturkan, salah satu kehilangan terbesar pascaerupsi adalah sejumlah ritual adat yang dahulu tercatat dalam Raja Purana Batur. Kini, ritual-ritual tersebut tidak lagi dapat dilaksanakan karena pengetahuan mengenai tata cara pelaksanaannya ikut hilang bersama aliran lava pijar yang melanda Batur saat itu.

Ia menyebut, beberapa ritual yang tidak lagi diwariskan di antaranya melintikkan gelung, yakni merapikan atau menata hiasan penari yang akan terlibat dalam upacara adat, serta meayunan atau tradisi bermain ayunan. Selain itu, sejumlah upacara besar yang pada masa lalu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat kini hanya tersisa dalam catatan sejarah. Masyarakat tidak lagi mewarisi pengetahuan mengenai tata cara pelaksanaan ritual-ritual tersebut.

Menurut Guru Nengah Santika, kemungkinan setelah bencana hanya ritual-ritual utama yang tetap dipertahankan. Keterbatasan sumber daya saat membangun kembali kehidupan membuat masyarakat harus beradaptasi dengan kondisi yang ada.

Struktur Adat yang Berubah

Perubahan besar juga terjadi pada struktur sosial masyarakat adat. Guru Nengah Santika menjelaskan Desa Adat Batur merupakan bagian dari Komunitas Bali Mula. Namun, setelah bencana masyarakat tidak lagi memiliki jabatan Kubayan sebagai bagian dari sistem Ulu Apat, yakni tradisi kepemimpinan dan pembagian tugas dalam masyarakat adat.

Perubahan itu, menurutnya, merupakan bentuk adaptasi masyarakat setelah bencana besar melanda.

“Kebayan itu ibarat kepala, sekarang kami berjalan hanya sampai perut. Itu gambaran perubahan struktur adat yang terjadi selama satu abad terakhir,” tuturnya.

Pariwisata, Investasi, dan Masa Depan Batur

Meski demikian, masyarakat terus berupaya mendokumentasikan setiap tradisi dan ritual yang masih dijalankan agar tidak hilang ditelan waktu. Upaya itu, menurut Guru Nengah Santika, menjadi cara menjaga memori kolektif sekaligus membuka peluang menghidupkan kembali sistem adat yang sempat terputus.

Di sisi lain, satu abad setelah erupsi besar Gunung Batur menghadirkan tantangan baru. Sisa-sisa letusan berupa kaldera justru menjadi daya tarik utama pariwisata Batur. Selain wisata air panas, kawasan Kintamani dalam beberapa tahun terakhir berkembang menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Bali dengan panorama kaldera dan jajaran gunung yang dapat dinikmati dari dataran tinggi.

Namun, di balik pesatnya perkembangan pariwisata itu, masyarakat asli Batur harus bersaing dengan derasnya arus investasi dari luar yang terus berdatangan mengembangkan berbagai usaha di kawasan tersebut.

Tantangan meningkatnya investasi dan arus kapital melalui industri pariwisata menjadi pekerjaan rumah bagi masyarakat lokal. Meski demikian, investor lokal, khususnya dari Bangli dan Batur, mulai ikut bersaing mengembangkan berbagai usaha, seperti kafe, restoran, glamping, hotel berbintang, hingga resor.

“Tingkatan investasi seperti sekarang banyaknya cafe-cafe yang berdiri di Kintamani banyak juga pengusaha lokal Batur, dari luar juga banyak yang investasi di sana. Kami tidak hanya sebagai penonton, kali ini ikut aktif terlibat di dalam persaingan. Kami punya dari daya tarik pariwisata salah satunya view Kaldera, kami siap bersaing dengan investor luar,” kata Guru Nengah Santika.

Menjaga Peradaban untuk Abad Berikutnya

Kini, satu abad setelah Rarud Batur, masyarakat adat membuktikan bahwa warisan leluhur tidak hanya bertahan melalui bangunan-bangunan suci yang selamat dari letusan. Lebih dari itu, warisan tersebut hidup melalui konsistensi masyarakat dalam merawat ritual, menjaga tradisi, serta mewariskan nilai-nilai budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di tengah era modern dan derasnya arus investasi, perjuangan masyarakat adat tak lagi semata menghadapi ancaman letusan Gunung Batur. Tantangan yang mereka hadapi kini adalah memastikan budaya yang lahir dan tumbuh di lereng gunung itu tetap hidup, lestari, dan terus diwariskan kepada generasi-generasi mendatang.rmol news logo article

Diajeng Vayantri Divianta
Kontributor Bali
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA