Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi, menilai dunia sedang mengalami perubahan kekuatan global yang signifikan, sementara Iran kini berada di salah satu titik paling krusial dalam konflik tersebut.
Dalam sebuah diskusi geopolitik, Islah menjelaskan bahwa dunia saat ini sedang mengalami apa yang ia sebut sebagai great shifting atau pergeseran besar dalam peta kekuatan global.
Menurut Islah, selama beberapa dekade dunia berada dalam dominasi Barat, khususnya dalam bidang ekonomi dan geopolitik. Namun kondisi itu kini mulai berubah.
“Kita sedang melihat perubahan besar dalam geopolitik dunia. Selama ini dunia didominasi Barat, tetapi sekarang muncul kekuatan baru seperti China yang sangat kuat dalam geoekonomi global,” kata Islah, dikutip redaksi di Jakarta, Senin 16 Maret 2026.
Pergeseran ini juga melahirkan fenomena politik baru berupa populisme. Di berbagai negara muncul pemimpin dengan narasi politik identitas, agama, atau nasionalisme kuat untuk meraih dukungan publik.
Islah mencontohkan beberapa figur politik dunia seperti Donald Trump di Amerika Serikat, Viktor Orbán di Hungaria, hingga Jair Bolsonaro di Brasil sebagai bagian dari tren global tersebut.
Islah juga menilai agama sering digunakan sebagai legitimasi moral dalam konflik geopolitik. Padahal, menurutnya, inti dari konflik biasanya tetap berkaitan dengan kekuasaan dan wilayah.
Ia menyinggung konflik yang melibatkan Israel sebagai contoh bagaimana narasi “tanah yang dijanjikan” sering dipakai untuk membenarkan tindakan politik dan militer.
“Agama sering dipakai sebagai legitimasi. Tetapi pada akhirnya yang diperebutkan tetap kekuasaan, wilayah, dan kepentingan geopolitik,” ujarnya.
Salah satu dampak paling nyata dari konflik global, menurut Islah, adalah gangguan pada sistem ekonomi dunia. Ia menegaskan bahwa sepanjang sejarah, perang hampir selalu berdampak langsung pada perdagangan dan distribusi barang.
“Kalau kita melihat sejarah, sejak zaman Yunani dan Romawi sampai kekhalifahan Islam, setiap perang selalu mengganggu perdagangan. Jalur distribusi terganggu dan ekonomi ikut terguncang,” jelasnya.
Islah bahkan menyinggung sistem transaksi keuangan dalam dunia Islam abad ke-12 yang dikenal sebagai "sak", yang menjadi cikal bakal sistem cek modern. Sistem tersebut memungkinkan pedagang melakukan transaksi jarak jauh tanpa membawa uang tunai.
Namun ketika perang pecah, jalur perdagangan terputus dan sistem ekonomi pun ikut melemah.
“Jadi sejak dulu sampai sekarang pola itu sama. Ketika perang terjadi, ekonomi pasti terkena dampaknya,” kata Islah.
Dalam diskusi tersebut, Islah juga menyoroti posisi Iran yang kini berada di pusat ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Ia menilai Barat selama ini membuat kesalahan besar dalam memahami negara tersebut, terutama sejak terjadinya Revolusi Iran 1979.
Sejak revolusi itu, Iran berada di bawah embargo internasional selama puluhan tahun. Menurut Islah, kondisi tersebut justru membuat dunia luar tidak benar-benar mengetahui kekuatan sebenarnya yang dimiliki Iran.
“Embargo selama puluhan tahun membuat Iran mengembangkan banyak teknologi secara mandiri. Kita tidak tahu secara pasti kemampuan militer atau teknologi yang mereka miliki,” katanya.
Ia menambahkan bahwa sepanjang sejarah, wilayah Persia—yang kini menjadi Iran—memiliki reputasi sebagai wilayah yang sulit ditaklukkan, bahkan oleh penakluk besar seperti Alexander the Great.
Meski berada di bawah sanksi ekonomi, Islah mengatakan Iran tetap mampu menjaga aktivitas ekonominya. Salah satu caranya adalah dengan menjual minyak melalui jalur tidak resmi atau melalui negara perantara.
Selain itu, Iran juga dinilai memiliki kemampuan produksi teknologi militer yang cukup maju, termasuk pengembangan drone yang beredar di pasar internasional melalui berbagai jalur distribusi.
Islah juga menilai kekuatan Iran tidak hanya terletak pada militernya, tetapi juga pada faktor ideologi. Setelah revolusi 1979, terjadi penyaringan besar di masyarakat Iran, di mana sebagian warga yang tidak setuju dengan sistem revolusi memilih meninggalkan negara tersebut.
Akibatnya, masyarakat yang tersisa adalah generasi yang relatif lebih menerima ideologi revolusi.
“Karena itu kalau pemimpinnya mati belum tentu negaranya runtuh. Ideologinya tetap hidup,” ujar Islah.
Salah satu faktor yang membuat konflik dengan Iran berpotensi berdampak global adalah posisi strategis negara itu di sekitar Selat Hormuz.
Sekitar 20 persen distribusi minyak dunia melewati jalur tersebut. Jika jalur itu terganggu atau ditutup, dampaknya bisa langsung terasa pada harga energi global.
“Kalau Selat Hormuz ditutup, harga minyak bisa melonjak dan ekonomi dunia bisa terguncang,” kata Islah.
Meski konflik geopolitik sering dilihat sebagai persaingan kekuatan antarnegara, Islah menegaskan bahwa pada akhirnya perang hampir selalu meninggalkan kerugian bagi semua pihak.
“Dalam perang sebenarnya tidak ada yang benar-benar menang. Semua akan menanggung kerugian ekonomi, kerusakan infrastruktur, dan korban manusia,” ujarnya.
Dampak konflik global, menurut Islah, juga bisa dirasakan oleh negara seperti Indonesia. Ia menyoroti beberapa indikator yang perlu diwaspadai, seperti kenaikan harga minyak, penguatan dolar, hingga ancaman fenomena El Niño yang dapat mempengaruhi produksi pangan.
Jika berbagai faktor itu terjadi bersamaan, kondisi tersebut berpotensi memicu tekanan ekonomi yang lebih besar.
Karena itu Islah mengingatkan masyarakat untuk tetap bersikap rasional dalam menghadapi situasi global yang tidak menentu.
“Situasi dunia memang sedang tidak stabil. Yang penting masyarakat tidak panik dan pemerintah harus mengantisipasi kemungkinan terburuk,” katanya.
BERITA TERKAIT: