Pernyataan itu disampaikan Trump di Gedung Putih pada Kamis, 4 Juni 2026, waktu AS. Saat ditanya kemungkinan bertemu langsung dengan pemimpin Iran, Trump menjawab bahwa hal tersebut bisa terjadi apabila proses negosiasi menghasilkan kesepakatan damai.
“Jika kita mencapai kesepakatan, ada kemungkinan saya akan bertemu. Saya tidak keberatan,” kata Trump.
Mojtaba Khamenei menjadi Pemimpin Tertinggi Iran setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas pada hari pertama pecahnya perang. Meski serangan AS dan Israel juga menewaskan sejumlah anggota keluarganya, Trump berharap Khamenei tetap bersikap profesional dalam proses perundingan.
“Di beberapa kalangan, dia sebenarnya memiliki reputasi yang sangat baik,” ujar Trump.
Upaya diplomasi untuk mengakhiri perang masih menghadapi berbagai hambatan. Konflik yang kini berada dalam gencatan senjata yang rapuh telah mengguncang pasar global, terutama sektor energi. Iran sejak awal perang membatasi aktivitas di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Washington menuntut Teheran memberikan jaminan bahwa negara tersebut tidak akan mengembangkan senjata nuklir serta membuka kembali Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran meminta penghentian seluruh aksi militer dan pencabutan blokade laut yang diberlakukan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Sinyal dari kedua pihak juga masih berubah-ubah. Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan bahwa negosiasi dengan AS akan dihentikan dan Selat Hormuz akan ditutup. Namun sehari kemudian, Trump mengklaim Iran telah menyetujui untuk tidak memiliki senjata nuklir.
Meski belum ada kesepakatan final, pernyataan Trump yang membuka peluang pertemuan langsung dengan pemimpin tertinggi Iran menjadi sinyal bahwa jalur diplomasi masih terbuka di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya mereda.
BERITA TERKAIT: