Indonesia termasuk menjadi negara yang akan terkena dampak dari perang tersebut mengingat ditutupnya Selat Hormuz dipastikan membuat harga bahan bakar membumbung tinggi.
“Kalau perang masih berlanjut mungkin sampai 1-2 bulan ke depan, bagaimana cadangan energi kita itu terhalang karena Selat Hormuz ditutup, bagaimana problem ekonomi yang memungkinkan terjadi krisis moneter, krisis fiskal, krisis daya beli, inflasi dan sebagainya itu? Jadi ini pertanyaan justru untuk membayangkan kalau perang berlanjut, konsekuensinya bagi Presiden Prabowo apa?” kata pengamat politik Rocky Gerung dikutip dalam kanal YouTube pribadinya, Rabu malam, 4 Maret 2026.
Ia menyebut Pemerintah RI harus menyiapkan langkah mitigasi dari kemungkinan terjadinya perang yang terus berlanjut.
Itu yang harus kita tanya, APBN kita berubah pasti proyeksinya karena harga minyak pasti naik. Harga minyak naik itu harga pangan pasti ikut naik karena biaya angkutan, harga-harga komoditas yang lain juga naik. Maka yang pasti hancur adalah dapur emak-emak. Itu konsekuensinya,” tegas Rocky.
Akademisi yang dikenal kritis ini lantas memprediksi kemiskinan bakal meningkat jika perang terus terjadi.
“Sekarang kalau itu terjadi dan kita lihat bagaimana kelas menengah turun drastis, kelas yang ke bawah itu makin papa. Itu sebetulnya realisme yang mesti dihadapi oleh Presiden Prabowo,” pungkasnya.
Kendati demikian, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi tidak akan mengalami kenaikan akibat kondisi Timur Tengah hingga Hari Raya Idulfitri 2026.
“Kemarin kami sudah melakukan rapat dengan Dewan Energi Nasional, dan di situ kami sudah mengantisipasi bahwa stok BBM kita untuk menjelang Hari Raya Idulfitri, insya Allah semua aman, termasuk dengan LPG. Jadi nggak perlu ada keraguan, sekalipun memang ada terjadi dinamika global di Iran dan Israel,” ujar Bahlil di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu, 4 Maret 2026.
BERITA TERKAIT: