Soal Pandji Dipolisikan, PP Muhammadiyah: Kalau Benar, Kritik jadi Pemicu Kebaikan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/faisal-aristama-1'>FAISAL ARISTAMA</a>
LAPORAN: FAISAL ARISTAMA
  • Jumat, 09 Januari 2026, 19:14 WIB
Soal Pandji Dipolisikan, PP Muhammadiyah: Kalau Benar, Kritik jadi Pemicu Kebaikan
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Anwar Abbas (Foto : Net)
rmol news logo Polemik komedi Mens Rea yang dibawakan Pandji Pragiwaksono dan berujung pada pelaporan ke Polda Metro Jaya, direspons Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Anwar Abbas. 

Menurut pria yang akrab disapa Buya Anwar, kritik seharusnya disikapi dengan sikap lapang dada dan bijaksana.

“Kita harus berlapang dada jika dikritik, karena lewat kritik kita bisa bercermin apakah kita sudah berbuat baik dan benar atau belum,” ujar Anwar Abbas kepada RMOL, Jumat, 9 Januari 2026.

Ia menegaskan, apabila selama ini suatu individu atau institusi telah berjalan di jalur yang benar, maka kritik justru harus dijadikan pemicu untuk meningkatkan kualitas kebaikan dan kebenaran tersebut agar manfaat kehadirannya semakin dirasakan oleh masyarakat luas.

“Kalau di masa lalu kita belum bisa berbuat baik dan benar. Maka mari kita evaluasi apa yang menjadi penyebab dari itu semua untuk kemudian kita carikan usaha dan upaya, serta solusi agar kehadiran kita bisa menjadi lebih berarti dan bermakna,” jelasnya.

Buya Anwar menegaskan, bagi Muhammadiyah, upaya menegakkan kebaikan dan kebenaran merupakan tugas suci. Sebab, sebaik-baik individu maupun organisasi dalam Islam adalah yang kehadirannya benar-benar menghadirkan maslahat dan manfaat, tidak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi umat, bangsa, negara, kemanusiaan, serta lingkungan.

Namun demikian, Buya Anwar juga mengingatkan agar pihak yang menyampaikan kritik tidak berlebihan. Ia mengutip teori psikologi “jungkat-jungkit” yang menjelaskan bahwa dominasi perasaan berlebihan dapat melemahkan peran rasio, begitu pula sebaliknya.

“Kita (apakah itu yang mengkritik ataupun yang dikritik) diminta untuk bisa mengelola perasaan dan rasio serta fikiran kita dengan baik agar kita tetap dapat konsisten dengan misi kita untuk menegakkan kebaikan dan kebenaran,” katanya.

Menurut Buya Anwar, kebaikan merupakan buah dari perasaan, sedangkan kebenaran lahir dari olah pikir. Keduanya, lanjut Anwar, harus disinari dan dituntun oleh nilai-nilai ajaran agama agar apa yang dilakukan dan disampaikan mendapat ridho Allah SWT serta dapat diterima oleh masyarakat luas.

“Ini jelas sangat diharapkan karena kita adalah bangsa yang punya falsafah sendiri yaitu Pancasila di mana sila pertamanya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Semoga,” pungkasnya. rmol news logo article
EDITOR: IDHAM ANHARI

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA