Demikian dikatakan pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menanggapi ketegangan di Timur Tengah yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat-Israel, dikutip Rabu 11 Maret 2026.
"Dalam jangka panjang, hal ini bisa menekan daya beli masyarakat," kata Amir.
Dalam perspektif intelijen strategis, krisis energi seringkali tidak berdiri sendiri. Lonjakan harga energi dapat memicu inflasi tinggi, memperlemah stabilitas ekonomi, serta menimbulkan ketidakpuasan sosial.
Amir menilai kondisi tersebut dapat menjadi pemicu munculnya mobilisasi massa di ruang publik.
Ia mencatat bahwa dalam beberapa hari terakhir, percakapan di media social --terutama di platform X -- mulai menunjukkan peningkatan kritik terhadap pemerintahan Prabowo Subianto.
Menurutnya, fenomena tersebut tidak bisa dipandang sebagai sekadar dinamika opini digital biasa.
“Dalam analisa intelijen sosial, media sosial sering menjadi indikator awal meningkatnya ketegangan publik. Narasi kritik yang masif bisa menjadi fase pemanasan sebelum muncul mobilisasi demonstrasi di lapangan,” kata Amir.
Ia bahkan tidak menutup kemungkinan munculnya aksi demonstrasi besar setelah momentum Idulfitri, ketika aktivitas sosial masyarakat kembali normal.
“Setelah Lebaran biasanya aktivitas politik dan sosial kembali meningkat. Jika kondisi ekonomi ikut tertekan karena krisis energi, maka potensi demonstrasi bisa meningkat,” kata Amir.
BERITA TERKAIT: