"Perang memberikan dampak yang sangat buruk, bagi kemanusiaan, bagi rakyat sipil, terkhusus anak-anak dan perempuan. Kami harap kedua negara dapat mengubah pendekatan militer menjadi pendekatan negosiasi damai," kata Sekretaris Umum DPP GAMKI, Sahat Martin Philip Sinurat dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (4/6).
GAMKI juga sudah menggelar pertemuan dengan Dutabesar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, Ina Lepel dan Dutabesar Rusia untuk Indonesia, Lyudmila Vorobieva.
Dalam dua pertemuan terpisah itu, GAMKI menyampaikan sikap organisasi. Namun di sisi lain, GAMKI juga menghormati sikap dan kebijakan negara-negara tersebut sesuai kepentingan nasional dari masing-masing negara.
"Sikap GAMKI jelas, kami menolak perang dan pendekatan senjata dalam penyelesaian konflik," lanjut Sahat.
Dalam pertemuan di Wisma Kedubes Rusia, GAMKI menanyakan tentang informasi di media sosial yang mengait-kaitkan persoalan Rusia-Ukraina dengan persoalan agama.
Dari keterangan Dubes Rusia, konflik antara Rusia dan Ukraina bukan terjadi baru-baru ini, melainkan sejak tahun 2014 pasca adanya revolusi yang berhasil melengserkan mantan presiden Ukraina Viktor Yanukovych.
"Ibu Dubes Lyudmila Vorobieva menjelaskan bahwa persoalan Rusia dan Ukraina bukanlah konflik agama, melainkan persoalan geopolitik," tandasnya.
BERITA TERKAIT: