Antusiasme publik membeludak hingga panitia menambah layar di area perpustakaan kampus.
Presiden Mahasiswa BEM Unisnu Jepara, Viky Zulfikar mengatakan, kampus harus tetap menjadi ruang akademik yang bebas dan netral untuk berdiskusi maupun mengkritisi kebijakan publik.
“Sebagai mahasiswa tentu kami memiliki hak memutar dan mendiskusikan film
Pesta Babi ini sebagai bentuk pembelajaran akademisi, sekaligus mengkritisi kebijakan negara,” kata Viky, dikutip dari
RMOLJateng, Senin 18 Mei 2026.
Kegiatan nobar yang digelar di Ruang Saintek Unisnu Jepara itu dihadiri hampir seribu peserta dari kalangan mahasiswa dan masyarakat umum.
Acara tersebut merupakan kolaborasi antara Book Club Jepara, Jaladara, BEM Unisnu, dan BEM FSH Unisnu Jepara.
Film dokumenter karya Dandhy Laksono bersama Cypri Dale tersebut mengangkat isu konflik agraria, dampak Proyek Strategis Nasional (PSN), hingga persoalan hak asasi manusia di Papua Selatan.
Sebelum pemutaran film, acara diawali dengan pertunjukan seni kolektif Jaladara yang menyoroti tragedi kekerasan Mei 1998.
Setelah pemutaran film berdurasi sekitar 95 menit itu, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi publik mengenai situasi sosial dan kebijakan negara di Papua.
BERITA TERKAIT: