Adapun kesaksian ini disampaikan Nurhasan dalam persidangan untuk terdakwa Wahyu Setiawan selaku Komisioner KPU RI dan Agustiani Tio Fridelina selaku kader PDIP di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kamis kemarin (11/6).
Menanggapi itu, pakar hukum dari Universitas Trisakti, Abdul Fickar Hadjar menilai hal tersebut bukan fakta baru yang terungkap dalam perkara dugaan suap terkait pergantian antarwaktu (PAW) anggota DPR RI periode 2019-2024.
“Karena memang sudah tergambarkan dari rangkaian kejadian dalam kasus ini, selain melibatkan komisioner KPU, seorang anggota PDIP Agustiani, Saeful bahri, kini muncul satpam Kantor PDIP yang memperjelas kasusnya," ucap Abdul Fickar Hadjar kepada
Kantor Berita Politik RMOL, Jumat (12/6).
Jika keterangan Nurhasan di persidangan benar adanya, maka hal itu semakin memperjelas bahwa dalam perkara suap Wahyu juga diduga melibat dua sosok lain yang masih misterius tersebut.
Di mana keduanya orang berbadan tegap dan misterius itu berperan meminta Nurhasan untuk mengambil tas dari Harun Masiku.
Lebih lanjut, Abdul Fickar yakin KPK sudah mengetahui dan mempunyai bukti yang cukup kuat. Saat ini, sambungnya, publik hanya tinggal menunggu keberanian KPK untuk menuntaskan rangkaian kasus tersebut.
“Saya kira KPK sudah punya bukti yang cukup kuat keterlibatan orang-orang tertentu. Kita menunggu keberanian KPK agar kasus ini dapat dituntaskan," pungkasnya.
Dalam persidangan kemarin, Nurhasan mengaku dihampiri dua orang pria dengan ciri-ciri badan tinggi dan agak gemuk serta tegap saat dia berjaga di Rumah Aspirasi PDIP.
Kedua orang tersebut, kata Nurhasan, tidak menjelaskan identitas dan maksud tujuan kedatangannya setelah dimintai identitas dan ditanyakan hal tersebut.
Keduanya hanya menyebut nama Harun Masiku kepada Nurhasan. Namun, Nurhasan mengaku tidak mengenal sosok Harun Masiku.
Lalu, mereka tanpa izin langsung masuk ke dalam pos jaga dan mengambil handphone milik Nurhasan yang sedang di-charger.
Kedua orang tersebut, kata Nurhasan, menghubungi seseorang dan memintanya untuk berbicara dengan seseorang yang ditelepon tersebut.
Awalnya, Nurhasan mengaku tidak kenal dengan pria yang sedang berbicara dengannya. Namun, dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Nurhasan kepada penyidik menyebutkan bahwa sosok yang berbicara di telepon dengan dirinya adalah Harun Masiku.
Pasa saat telepon itu, Nurhasan mengaku merasa terdesak dengan kedua orang tersebut. Sehingga, ia dituntun mengucapkan apa yang disuruh oleh kedua orang tersebut saat menelepon Harun.
Saat berkomunikasi itu, Nurhasan mengatakan dan meminta agar Harun Masiku merendam handphone dan datang ke Kantor DPP PDIP. Bahkan, Nurhasan sempat menawarkan untuk merendamkan handphone Harun.
Setelah perbincangan itu, Nurhasan selanjutnya diminta oleh Harun untuk bertemu di Jalan Cut Meutia. Sehingga ia menggunakan sepeda motor dengan dikawal oleh kedua pria tersebut yang juga menggunakan sepeda motor hingga di lokasi pertemuan.
Sekitar 30 menit menunggu di pinggir jalan, sosok yang mirip dengan Harun Masiku kata Nurhasan datang menggunakan sebuah mobil dan memberikan sebuah tas laptop kepada dirinya dan langsung bergegas pergi.
Nurhasan pun juga akhirnya bergegas pergi. Namun tak jauh dari lokasi bertemu itu, kedua pria tegap itu ternyata memantau dari jarak jauh dan menghentikan perjalanan Nurhasan. Seketika, tas laptop tersebut langsung diambil oleh kedua orang tersebut.
BERITA TERKAIT: