"Sepanjang bukan berisi hasutan, dukungan parsial, cacian, makian. Jika materi khutbah, adalah yang sifatnya edukasi politik, tentu saja boleh," kata ustadz kondang Indonesia, Yusuf Mansur.
Lantas bagaimana membedakan materi dakwah bersifat edukasi atau makian? Terlebih menjelang Pemilihan Umum 2019. Yusuf Mansur menjelaskan, letak perbedaannya bisa diukur dari narasi yang disampaikan oleh pendakwah. Kalau belum cukup, bisa juga dilihat dari intonasi dan gestur tubuh.
"Jika sudah bersuara emosi, umumnya suka hilang kontrol. Sampai sini, pengurus masjid, boleh saling mengingatkan. Supaya enggak ada pertikaian, karena pastinya jamaah pun majemuk," urainya.
Akan tetapi pimpinan pondok pesantren Daarul Quran Ketapang, Tangerang itu menilai, mayoritas masjid-masjid di Indonesia telah mengajarkan jamaah sesuai dengan ajaran agama Islam. Khususnya dakwah yang penuh kesejukan dan Islam yang
rahmatan lil alamin.
Khusus masjid yang masih kerap terlihat ujaran kebencian, menurut dia, dalam proses pendewasaan.
"Kita semua harus saling mendoakan, agar tak ada lagi amarah yang dikobarkan lewat masjid. Sebab jika salah pendekatan, dianggap mengebiri kebebasan berbicara juga. Percayalah, lama-lama, capek juga kok buat seseorang bila mendengar terus menerus kalimat negatif," tukasnya.
[wid]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: