Cak Ali: Gusti Joyo Figur Santun dan Religius

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ade-mulyana-1'>ADE MULYANA</a>
LAPORAN: ADE MULYANA
  • Selasa, 31 Desember 2013, 20:03 WIB
Cak Ali: Gusti  Joyo Figur Santun dan Religius
Ali Masykur Musa/net
rmol news logo Ketua Umum Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Ali Masykur Musa menyampaikan bela sungkawa atas wafatnya Gusti Bendara Pangeran Haryo (GBPH) H Joyokusumo. Gusti Joyo, demikian adik kandung Sri Sultan Hamengkubuwono X dulu biasa disapa, meninggal dunia pukul 17.00 WIB tadi di Rumah Sakit Medistra Jakarta.

"Innalillahi Wainna Ilaihin Rojiun, masyarakat Yogyakarta khususnya dan Jawa umumnya merasa kehilangan atas wafatnya Gusti Joyo. Semoga arwah Almarhum diterima di sisi Allah SWT," ujar Ali Masykur dalam pesan elektroniknya kepada Rakyat Merdeka Online sesaat lalu (Selasa, 31/12).

Cak Ali, demikian Ali Masykur Musa disapa, sangat mengenal almarhum sebagai sosok yang santun dan bijak.

"Selama 10 tahun berkawan dengan Almarhum ketika menjadi Anggota DPR RI, almarhum adalah pribadi yang santun dan menghormati terhadap sesama kawan, bahkan terhadap lawan politik parpol lain. Almarhum kalau bicara halus dan menunjukkan pribadi yang bijak," kata Cak Ali.

Dalam banyak kesempatan berbincang, kata Anggota BPK RI itu, Gusti Joyo selalu menyisipkan masalah-masalah spiritual dalam pembicaraannya dengan maksud agar setiap insan hidup penuh keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat.

Cak Ali menuturkan saat dirinya menjenguk sebulan lalu, meski fisik suami dari BRAy Hj. Nuraida Joyokusumo itu kelihatan lelah, namun ketika berbicara masalah agama nampak bersemangat. Bagi keluarga NU, katanya, Gusti Joyo dinilai sebagai wakil Keraton Yogja yang memperhatikan masalah agama. Ritual Sema'an Al Quran dalam jamaah Jantiko sebagai warisan dari Gus Mik selalu dipertahankannya. Begitu juga ritual Tahlilan dan Yasinan di Keraton.

"Itulah figur Gusti Joyo, santun dan religius yang memperhatikan masalah agama," imbuh Cak Ali.

Lebih lanjut peserta Konvensi Capres Partai Demokrat itu berharap agar ada wakil dari Keraton Yogja yang dapat meneruskan peranan Almarhum dalam membina kehidupan beragama, seriring peran Keraton sebagai Sayyidin Panotogomo atau panutan yang mengatur kehidupan beragama.

"Sungguh, masyarakat Yogja dan Keluarga Besar NU merasa kehilangan atas wafatnya Gusti Joyo. Dengan doa semoga khusnul khotimah, dan berharap agar segera ada yang menggantikan peranan Almarhum dalam kehidupan beragama," demikian Cak Ali.

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA