Pemicu utamanya adalah tensi panas di Timur Tengah setelah Presiden Donald Trump menolak mentah-mentah proposal perdamaian dari Iran. Pernyataan Trump bahwa gencatan senjata berada di "ambang kegagalan" sukses bikin pasar was-was akan gangguan pasokan energi global.
Efeknya langsung terasa di pasar bahan bakar. Harga minyak mentah WTI melonjak 3,37 persen ke angka 98,64 Dolar AS per barel, sementara Brent melesat hingga menembus 104,71 Dolar AS per barel.
Selain isu Selat Hormuz, pasar kini sedang menebak-nebak apakah kita sedang menuju babak baru konflik atau sekadar negosiasi yang lebih rumit.
Di belahan dunia lain, mata uang Yuan justru tampil perkasa dengan menguat 0,08 persen ke posisi 6,791 per Dolar AS, menjadi level terkuatnya sejak awal 2023.
Investor tampaknya berekspektasi positif pada pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Xi Jinping pekan ini. Apalagi, kinerja ekspor China sedang moncer berkat tingginya permintaan di sektor kecerdasan buatan (AI).
Sementara itu, dari Amerika Serikat, data tenaga kerja yang naik dua kali lipat dari ekspektasi (tambah 115.000 pekerjaan) membuat peluang pemangkasan suku bunga oleh The Fed semakin tertutup dalam waktu dekat. Fokus pasar kini beralih pada rilis data inflasi (CPI dan PPI) pekan ini untuk melihat seberapa kuat ekonomi AS bertahan di tengah badai harga energi global.
Di pasar valuta lainnya, Poundsterling Inggris sedikit menguat ke 1,3637 Dolar AS meski pemerintahan PM Keir Starmer sedang digoyang isu pengunduran diri internal partai.
Sedangkan terhadap Yen Jepang, Dolar AS tetap perkasa dengan kenaikan 0,29 persen ke posisi 157,11, membuktikan bahwa dolar masih menjadi tempat aman bagi investor di tengah ketidakpastian dunia.
BERITA TERKAIT: