Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Amin Suyitno mengatakan, perkembangan tersebut menjadi bagian dari transformasi perguruan tinggi keagamaan Islam melalui paradigma ekoteologi. Menurut dia, pelestarian lingkungan atau hifdz al-bi'ah perlu ditempatkan sebagai bagian dari nilai dan praktik kehidupan Islam.
"Ini membuktikan bahwa kualitas PTKIN kita telah bertransformasi secara holistik. Pengakuan dari UI GreenMetric menegaskan bahwa tata kelola kampus-kampus kita merupakan wujud konkret dari ekoteologi yang kita galakkan," ujar Amin, dikutip redaksi di Jakarta, Kamis 17 September 2026.
Pernyataan itu disampaikan setelah sejumlah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) mencatatkan prestasi dalam UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2026. Dalam pemeringkatan yang diumumkan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Selasa 15 September 2026, UIN Raden Intan Lampung berhasil menembus peringkat kedelapan nasional.
Capaian tersebut sekaligus menempatkan UIN Raden Intan Lampung sebagai perguruan tinggi Islam dengan peringkat tertinggi dalam pemeringkatan nasional dan satu-satunya kampus asal Sumatera yang masuk 10 besar. Kampus tersebut juga dinobatkan sebagai Perguruan Tinggi Islam Paling Berkelanjutan di Indonesia.
Prestasi PTKIN tidak berhenti di sana. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menempati peringkat ke-15 nasional, sedangkan UIN Raden Fatah Palembang berada di posisi ke-21. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menyusul di peringkat ke-31 dan mendapat penghargaan sebagai Perguruan Tinggi dengan Peningkatan Kinerja Keberlanjutan Substantif Terbaik di Indonesia.
Secara global, UI GreenMetric 2026 diikuti 2.016 universitas dari 110 negara. Di Indonesia, jumlah peserta juga meningkat tajam, dari 22 perguruan tinggi pada 2010 menjadi 217 perguruan tinggi yang tersebar di 27 provinsi pada 2026.
Bagi Amin, capaian tersebut menunjukkan bahwa gagasan ekoteologi mulai bergerak dari tataran konsep menuju praktik. Tata kelola kampus, kata dia, tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran ekologis.
Konsep itu sejalan dengan gagasan ekoteologi yang didorong Menteri Agama Nasaruddin Umar. Melalui pendekatan tersebut, kepedulian terhadap alam ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan dan manifestasi Islam rahmatan lil 'alamin.
Pengakuan juga diberikan kepada sejumlah PTKIN melalui sertifikat kepatuhan dan rating, di antaranya UIN Salatiga, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, UIN Syekh M. Djamil Djambek Bukittinggi, UIN Sumatera Utara Medan, dan UIN Imam Bonjol Padang.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Sahiron mengatakan capaian sejumlah PTKIN dalam UI GreenMetric dapat menjadi pijakan bagi kampus lainnya untuk memperkuat inovasi dan tata kelola berkelanjutan.
"Kami di Diktis akan terus mengawal dan memberikan dukungan strategis agar ke depan semakin banyak PTKIN yang masuk dalam radar pemeringkatan nasional dan internasional sebagai kampus percontohan yang hijau dan berkelanjutan," kata Sahiron.
Dalam pemeringkatan nasional UI GreenMetric 2026, Universitas Indonesia berada di peringkat pertama, disusul Universitas Diponegoro dan UGM. Posisi berikutnya ditempati Universitas Negeri Semarang, Universitas Sebelas Maret, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Airlangga.
UI GreenMetric merupakan pemeringkatan perguruan tinggi yang mengukur komitmen institusi terhadap pembangunan kampus yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Setelah UGM menjadi tuan rumah penyelenggaraan 2026, pelaksanaan pemeringkatan nasional tahun depan akan beralih ke Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
BERITA TERKAIT: