Pasalnya, bencana yang berlangsung sejak sepekan terakhir itu kini mengancam mata pencaharian masyarakat.
Ratusan hektare kebun warga dilaporkan terbakar. Sebagian besar merupakan kebun karet yang selama ini menjadi sumber penghasilan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut membuat warga Desa Gumay kini mulai kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Mereka bahkan meminta pemerintah turun tangan menyalurkan bantuan sembako dan air bersih.
Salah seorang warga Desa Gumay, Irwandi mengatakan, warga saat ini berada dalam kondisi cemas. Api yang belum sepenuhnya padam dikhawatirkan terus meluas dan menghanguskan lebih banyak kebun.
"Kalau melihat api ini kami ngeri sekali," kata Irwandi, dikutip dari
RMOLSumsel, Rabu 26 Agustus 2026.
Menurutnya, warga telah berupaya memadamkan api secara mandiri dengan peralatan seadanya. Mereka berjibaku siang dan malam untuk menghalau kobaran api agar tidak semakin meluas.
Namun, upaya tersebut terkendala minimnya peralatan dan sulitnya mendapatkan air di tengah musim kemarau.
Warga menyemprotkan air menggunakan peralatan yang tersedia. Sebagian lainnya berupaya membuat sekat dengan menebas rerumputan di sekitar titik api untuk memperlambat laju kebakaran.
Bantuan pemadaman dari pemerintah memang telah datang. Mobil pemadam kebakaran dan helikopter
water bombing sempat dikerahkan ke lokasi.
Namun, kondisi medan menjadi kendala bagi mobil pemadam untuk menjangkau titik kebakaran.
"Karena memang medannya sulit dilewati mobil," kata Irwandi.
Helikopter juga sempat melakukan pemadaman dari udara. Namun, menurut Irwandi, air yang dijatuhkan belum mampu memadamkan api secara permanen.
"Setelah heli pergi, api kembali menyala dan membakar lahan," kata Irwandi.
Dampak paling terasa bagi warga adalah hilangnya sumber penghasilan. Kebun karet yang terbakar membuat warga tidak lagi bisa melakukan penyadapan dan menjual hasil karet secara rutin.
"Saat ini kami butuh sembako dan air bersih. Karena kami kehilangan mata pencarian," pungkas Irwandi.
BERITA TERKAIT: