Namun, tiga subsektor industri pengolahan mengalami kontraksi, salah satunya industri kayu, barang dari kayu, dan gabus yang terdampak gangguan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
IKI September 2026 tersebut turun 0,37 poin dibandingkan Agustus yang berada di level 52,30. Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, 15 subsektor masih mengalami ekspansi.
Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Yulia Astuti mengatakan, kontraksi pada industri kayu, barang dari kayu, dan gabus dipengaruhi gangguan di sejumlah wilayah saat periode puncak karhutla pada September 2026.
"Ini memang dipengaruhi oleh adanya di sejumlah wilayah terganggu di tengah meningkatnya kebakaran hutan dan lahan, yaitu karhutla, pada periode puncak karhutla di September 2026," kata Yulia di Kementerian Perindustrian, Rabu, 30 September 2026.
Menurut dia, kondisi tersebut berdampak pada kelancaran aktivitas dan konektivitas transportasi di wilayah yang terdampak karhutla.
Selain kayu, perlambatan juga terjadi pada industri kertas, percetakan, dan furniture. Kondisi tersebut turut dipengaruhi ketidakpastian ekonomi global, persaingan harga, serta tekanan biaya energi.
"Yaitu tadi seperti kayu, kertas, percetakan, furniture menjadi melambat," ujar Yulia.
Secara keseluruhan, sektor Industri Agro mencatat pertumbuhan 5,64 persen pada semester I 2026. Meski demikian, perkembangan subsektor pada September menunjukkan adanya tekanan pada sejumlah industri, termasuk kelompok industri berbasis kayu dan kertas.
BERITA TERKAIT: