Diketahui, peringatan May Day di Jakarta terbagi dua di kawasan Monas dan depan Gedung DPR/MPR.
Aktivis hak asasi manusia Asfinawati menilai, ukuran utama peringatan May Day bukan terletak pada siapa berkumpul di mana, melainkan apakah perjuangan buruh benar-benar menghasilkan perlindungan nyata.
“Sebetulnya dari tahun ke tahun selalu terjadi perbedaan titik aksi. Sebetulnya kalau menurut saya ngelihatnya bukan di situ tapi tuntutannya apa,” kata Asfinawati di Senayan, Jumat 1 Mei 2026.
Ia menyoroti pentingnya melihat dampak konkret setelah aksi berlangsung, terutama terkait kebebasan berserikat dan perlindungan terhadap pekerja.
Menurutnya, kehadiran pejabat negara dalam perayaan buruh tidak akan berarti jika praktik pemberangusan serikat pekerja masih terus terjadi.
“Apakah setelah ada aksi, ada presiden, apakah kebebasan berserikat dijamin?” ujarnya.
“Kalau enggak kan percuma aja, itu cuma jadi gimik politik,” sambungnya.
BERITA TERKAIT: