Rombongan diterima langsung oleh Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo bersama Ketua KWI Antonius Subianto Bunjamin dan jajaran. Dalam pertemuan itu, Sudirman menegaskan pentingnya mengasah nurani publik melalui panduan para tokoh moral.
“Kami datang untuk berudarasa sekaligus mengasah nurani, dan berharap mendapat pandangan yang tidak hanya berbasis ilmu, tetapi juga kebijaksanaan spiritual,” ujar Sudirman.
Ia menilai, kehidupan berbangsa saat ini mengalami kemunduran dalam aspek moralitas, spiritualitas, dan ideologi. Menurutnya, ketiganya harus ditopang oleh keluhuran nilai dan penegakan hukum agar kepemimpinan tidak menyimpang.
Sudirman juga menekankan perlunya solusi “beyond politics”, yakni politik yang berorientasi pada kemanusiaan dan kebangsaan, bukan sekadar perebutan kekuasaan.
Diskusi dipandu Yanuar Nugroho yang menyoroti pentingnya otoritas moral dalam menjaga batas antara kebenaran dan kepentingan. “Krisis sosial berakar dari krisis moral dan kegagalan pilihan etis,” ujarnya.
Sejumlah tokoh turut menyampaikan pandangan kritis. Pakar hukum Feri Amsari menilai praktik kekuasaan kerap menyimpang dari konstitusi.
“Konstitusi bilang A, yang dilakukan presiden Z. Aturan disetel sesuai kepentingan,” tegasnya.
Dari kalangan dunia usaha, Anton Supit mengingatkan bahaya inkompetensi dalam pengambilan kebijakan. “Inkompetensi lebih berbahaya daripada kejahatan,” ujarnya.
Forum juga menyoroti temuan Indonesian Business Council (IBC) terkait empat defisit ekonomi: lapangan kerja, investasi, fiskal, dan kepercayaan. Hal ini dipicu lemahnya kepastian hukum, kemampuan pemerintah, dan ketersediaan modal.
Sementara itu, Diah Satyani Saminarsih menyoroti kebijakan yang dinilai menyederhanakan persoalan sosial sehingga menekan kelompok marjinal.
Menutup pertemuan, Antonius Subianto Bunjamin mengapresiasi keberanian masyarakat sipil yang tetap konsisten memperjuangkan nilai kebangsaan. Ia menyebut kehadiran forum ini sebagai penguat bagi gereja.
“Kehadiran Anda seperti multivitamin yang meneguhkan kami sebagai komunitas pengharapan,” ujarnya.
Senada, Kardinal Ignatius Suharyo mengingatkan adanya tantangan “dosa struktural” dalam kehidupan berbangsa. Ia menekankan pentingnya sikap moral yang teguh tanpa kompromi kepentingan politik maupun ekonomi.
“Inspirasi kita adalah iman. Agamanya boleh berbeda, tetapi imannya satu. Ini tentang moralitas untuk Tuhan dan Tanah Air,” pungkasnya.
BERITA TERKAIT: