IPPA Fest 2025 ini digelar dengan mengusung tema "Merdeka Berkreativitas Walau Tempat Terbatas".
"IPPA Fest adalah jendela peradaban. Di balik tembok tinggi lembaga pemasyarakatan, tumbuh semangat, keterampilan, dan tekad untuk berubah," kata Agus dalam sambutannya.
Agus mengatakan, festival ini bukan sekadar selebrasi seni atau pameran produk warga binaan, melainkan panggung transformasi dan kemanusiaan.
Festival menampilkan karya seni, kerajinan tangan, kuliner, tekstil, hingga seni rupa ini merupakan hasil pembinaan kreatif dari warga binaan di berbagai Lapas dan Rutan.
"IPPA Fest adalah ajakan terbuka untuk tidak menutup pintu bagi mereka yang ingin berubah,” lanjutnya.
Di sisi lain, ia mengapresiasi seluruh jajaran Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, pembina di Lapas dan Rutan, organisasi sosial, serta mitra industri yang telah mendukung penuh penyelenggaraan IPPA Fest.
Secara khusus, ia menyebut kontribusi jajaran Direksi PT Pantai Indah Kapuk 2 (Pengelola Aloha PIK 2) yang menyediakan lokasi dan fasilitas festival.
“Kolaborasi dengan dunia usaha dan pelaku industri sangat penting agar karya warga binaan bisa menjangkau pasar nasional dan internasional. Ini bagian dari ekonomi kreatif inklusif yang berkelanjutan,” lanjut Agus.
IPPA Fest 2025 membuka ruang publik untuk melihat warga binaan bukan objek penghukuman, melainkan subjek pembinaan yang layak dihargai dan diberi peluang.
"Dengan mengucap
bismillahirrahmanirrahim, IPPA Fest 2025 resmi dibuka," pungkasnya.
BERITA TERKAIT: