ACT: 2 Pekan Terkumpul 2 Ribu Ton Beras Untuk Rohingya

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Selasa, 19 September 2017, 10:15 WIB
rmol news logo Jumlahnya terhitung 80 ribu karung beras. Setiap masing-masing karung beras punya dimensi berat sekira 25 kilogram. Artinya jika ditotal keseluruhan, berarti ada 2 juta kilogram beras yang berhasil terkumpul. Jumlah sebanyak itu setara dengan berat bersih 2 ribu ton beras.

"Ini bukan tentang menghitung berapa jumlah panen beras yang bisa diproduksi dalam satu wilayah, bukan pula tentang urusan jual beli beras yang hanya berakhir pada cerita antara si penjual dan si pembeli. Tapi ini tentang lompatan besar empati atas nama bangsa Indonesia," ujar Media and Public Relations Aksi Cepat Tanggap (ACT), Shulhan Syamsur Rijal dalam rilis tertulisnya kepada redaksi, Selasa (18/9).

"Empati dan kepedulian yang dikumpulkan setelah mendengar kabar tentang etnis rohingya yang terusir. Ini tentang gerakan kemanusiaan luar biasa yang berhasil terkumpul tak kurang dari hitungan dua pekan," lanjutnya.

Ya, hanya butuh dua pekan untuk menyiapkan dan mengumpulkan sejumlah total 2 juta kilogram beras. Ribuan petani lokal dilibatkan dalam catatan epik kemanusiaan bangsa Indonesia ini. Ratusan sampai seribu-an hektare sawah menjadi pemasoknya di dua kabupaten yang berbeda; dari Kabupaten Blora Kecamatan Cepu, hingga Kabupaten Bojonegoro.

"Untuk pertama kalinya dalam sejarah kemanusiaan bangsa ini, paket bantuan dalam jumlah terbesar bakal segera dikirimkan untuk puluhan ribu keluarga-keluarga rohingya yang kini terkucil, terusir, dan dirundung ketakutan," terang Shulhan.

Atas nama bangsa Indonesia, bantuan kemanusiaan masif sebesar 2 ribu ton beras bakal dilayarkan langsung dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, menuju ke Pelabuhan Chittagong di Bangladesh.

Dari Chittagong, tepat di sepanjang perbatasan antara Myanmar inilah membludak luar biasa jumlah pelarian pengungsi rohingya yang sebelumnya berasal dari Sittwe, negara bagian Rakhine.

Ketika rumah mereka dibakar, kampung mereka habis tidak bersisa, tak ada pilihan lain selain lari dan mengungsi.

Rahadiansyah selaku anggota Tim Kemanusiaan ACT untuk Rohingya yang tiba di Bangladesh sejak Jumat (1/9) lalu menuturkan, kondisi mereka begitu memprihatinkan. Banyak dari mereka yang terlihat ketakutan dan lunglai, tak terkecuali anak-anak.

"Bayi dan balita kekurangan asupan gizi karena tidak mendapatkan asi dari ibunya. Ibu mereka cukup stres sehingga ASI pun tidak keluar. Apalagi para lansia yang terlihat ringkih dengan tongkat jalan mereka. Mereka butuh suplemen untuk menambah stamina tubuh," papar Rahadiansyah yang akrab disapa Anca.

Saat ini, imbuh Anca, setidaknya ada empat kebutuhan utama para pengungsi etnis rohingya, di antaranya pangan, nutrisi dan suplemen, shelter, dan pakaian layak pakai. "Di atas itu semua, panganan siap saji paling dibutuhkan saat ini," tambah Anca.

ACT menampung amanah besar masyarakat Indonesia, mengulang kembali catatan epik pengiriman bantuan ke Somalia dan Afrika lewat Kapal Kemanusiaan tahap ke-1 dan tahap ke-2, beberapa bulan lalu.

Lebih lanjut Ngadi menceritakan, sebelum Kapal Kemanusiaan berangkat, ada berbagai kesibukan yang terekam selama dua pekan terakhir, khususnya di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Kabupaten Blora. Lewat Lumbung Pangan Masyarakat (LPM) di Desa Jipang, sebuah konsep pengelolaan wakaf di ranah pembibitan dan pengelolaan hasil tani yang dikelola ACT, beras ribuan ton disiapkan untuk rohingya.

Sebelum konvoi truk kontainer datang merapat ke Jipang, para petani sudah sibuk memanen padi. Kepala Desa Jipang, Ngadi mengatakan, semangat untuk membantu rohingya datang bersamaan dengan momentum panen di Jipang, juga panen di desa-desa sekitar Cepu. "Tak disangka, amanah untuk siapkan ribuan ton beras untuk membantu rohingya ini datang tepat di momen panen raya Desa Jipang," ujar Ngadi.

Kurang lebih sepekan sebelumnya, dengan tangan yang cekatan, tangan para petani memarit padi untuk selanjutnya dikumpulkan dalam satu wadah besar. Padi-padi yang telah dikumpulkan lantas dimasukkan ke dalam suatu mesin pengolah untuk dipisahkan antara padi dan tangkainya.

"Ini bukan sekadar hiruk pikuk menyambut masa panen ketiga dalam setahun terakhir. Ini tentang ikhtiar besar masyarakat Indonesia untuk membantu saudara-saudara rohingya yang tengah diterpa krisis kemanusiaan," tutur Ngadi.

Dimulai sejak Sabtu (16/9) kemarin, selama empat hari proses muat beras dari gudang ke dalam kontainer dilakukan per 500 ton setiap harinya. Puncaknya, Selasa (19/9) iring-iringan 20 kontainer terakhir yang dimuat dari Cepu bakal berjalan konvoi menuju ke Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Iring-iringan konvoi truk kontainer Kapal Kemanusiaan untuk Rohingya dilepas langsung oleh Bupati Blora, Djoko Nugroho.

"Tiba di Surabaya, Insya Allah, 2 ribu ton beras Kapal Kemanusiaan untuk rohingya bakal dilayarkan melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya," kata Shulhan.

Jika tak ada aral melintang, Kapal Kemanusiaan rencananya bakal dilepas hari Kamis esok (21/9) oleh Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dan Presiden ACT, Ahyudin di Dermaga Terminal Petikemas Surabaya.[wid]


Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA