Salah satunya kasus penyuapan oleh tersangka AN, anak bos Prodia, yang menyeret 4 personel penyidik Polres Metro Jakarta Selatan yang saat ini dipatsuskan di Polda Metro Jaya.
Mereka adalah dua mantan Kasatrekrim Polres Jakarta Selatan, AKBP Bintoro dan AKBP Gogo Galesung serta Kanit Resmob, AKP AZ dan Kasubnit Resmob Satreskrim Polres Metro Jaksel berinisial ND.
Founder Malleum Iustitiae Institute, Efatha Filomeno Borromae Duarte mengatakan, situasi ini mengindikasikan adanya persoalan serius dalam sistem pengawasan dan pemberian sanksi.
"Jika kita menilik serangkaian kasus pelanggaran di tubuh Polri, tampak jelas bahwa
institutionele integriteit kerap diabaikan, sementara mekanisme
organisch toezicht belum berfungsi secara optimal," kata Efatha dalam keterangannya, Kamis 6 Februari 2025.
Dosen FISIP Universitas Udayana ini menambahkan bahwa tidak adanya efek jera serta lemahnya sanksi administratif semakin menegaskan urgensi untuk melakukan pembaruan regulasi hukum.
"Hal ini penting guna menutup celah yuridis yang memungkinkan praktik korupsi terus berlangsung," kata Efatha.
Menurutnya, reformasi total harus dilakukan dengan langkah-langkah konkret, dimulai dari penyempurnaan standar rekrutmen dan promosi berbasis meritokrasi yang transparan.
Selain itu, evaluasi terhadap akuntabilitas operasional Polri harus dilakukan melalui sinergi antara pengawasan internal dan eksternal.
"Agenda ini tidak bisa sekadar menjadi retorika. Kita membutuhkan sistem
checks and balances yang benar-benar independen agar Polri dapat bertransformasi menjadi pilar rechtsstaat yang kokoh," kata Efatha.
Ia menekankan pentingnya langkah-langkah reformasi yang berkelanjutan untuk memulihkan legitimasi publik terhadap citra polri.
"Pada titik inilah kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian dapat direkonstruksi secara berkelanjutan," pungkas Efatha.
BERITA TERKAIT: