Pelaku Yang Siapkan Bom Bunuh Diri Di Brussel Berasal Dari Molenbeek

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/amelia-fitriani-1'>AMELIA FITRIANI</a>
LAPORAN: AMELIA FITRIANI
  • Rabu, 21 Juni 2017, 16:02 WIB
Pelaku Yang Siapkan Bom Bunuh Diri Di Brussel Berasal Dari Molenbeek
Tentara dan Polisi Belgoa berjaga/Reuters
rmol news logo Belgia menghindari serangan serius setelah otoritas keamanan menaklukan seorang tersangka bom bunuh diri yang berencana untuk meledakkan bom besar.

Menteri Dalam Negeri Belgia Jan Jambon mengatakan bahwa insiden itu hanya menimbulkan sedikit ledakan di stasiun sentral Brussels pada hari Selasa (20/6).

"Kemarin, seseorang dengan bahan peledak memasuki stasiun pusat, dia bermaksud untuk meledakkan sebuah bom besar, pada akhirnya, ada sebuah ledakan kecil dimana tentara bereaksi segera. Sesuatu yang jauh lebih buruk telah dihindari," kata Jan Jambon seperti dimuat Reuters.

Beberapa media melaporkan sumber yang tidak disebutkan namanya mengatakan bahwa perangkat yang gagal meledak mirip dengan bom yang digunakan dalam serangan di bandara Brussel dan di metro kota yang menewaskan 32 orang pada Maret 2016.

Penyerang yang dicurigai, yang ditembak mati oleh tentara yang berpatroli di stasiun tersebut, dilaporkan seorang pria berusia 37 tahun dari Molenbeek. Wilayah dalam kota itu memiliki populasi imigran yang besar dan merupakan rumah bagi beberapa dari mereka yang terlibat dalam serangan ISIS di Paris dan Brussels pada tahun 2015 dan 2016.

Jambon mengatakan polisi sedang mencari rumah di Molenbeek sebagai bagian dari penyelidikan mereka. Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut tentang pencarian atau mengapa bom tersebut tidak sepenuhnya meledak.

Meski tidak ada yang terluka, asap yang mengepul melalui Stasiun Pusat membuat penumpang komuter berlomba-lomba untuk berlindung.

Polisi menghentikan lalu lintas kereta api, mengevakuasi lokasi tersebut dan membersihkan jalan-jalan yang penuh sesak dengan turis dan penduduk menikmati malam musim panas di pusat kota antara stasiun dan Grand Place di dekatnya, alun-alun kota Renaissance di Brussel.

"Kami tidak akan membiarkan diri kami diintimidasi, kami akan terus menjalani hidup kami seperti biasa," kata Perdana Menteri Belgia Charles Michel mengatakan dalam sebuah konferensi pers.

Ibukota Belgia, markas besar NATO dan Uni Eropa, telah siaga tinggi sejak anggota ISIS yang berbasis di Brussels membunuh 130 orang di Paris pada November 2015 dan kemudian mengorganisir serangan tersebut di Brussels beberapa bulan kemudian.

Sejak saat itu, serangan di Prancis, tetapi juga di Jerman, Swedia dan, yang terakhir, di Inggris, telah dilakukan atas nama kelompok militan Islam yang berbasis di Suriah oleh pemuda lainnya, banyak di antaranya penduduk setempat. [mel]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA