Dari total 9 atlet yang diturunkan, kontribusi signifikan datang dari taruna Akademi Kepolisian (Akpol). Tiga di antaranya turut menyumbang medali, menegaskan peran pembinaan Polri dalam melahirkan atlet berprestasi.
Raihan medali emas masing-masing dipersembahkan M. Zaki Zikrilah Prasong (kelas B putra), Iqbal Chandra Pratama (kelas F putra), Safira Dwi Meilani (kelas C putri), serta nomor regu putra yang diperkuat Asep Yuldan Sani, Rano Slamet Nugraha, dan Andika Dhani Reksa. Sementara medali perak diraih Tito Hendra Septa Kurnia di kelas E putra.
Capaian ini sekaligus menegaskan dominasi Indonesia sebagai kekuatan utama pencak silat dunia. Wakapolri Komjen Pol Dedi Prasetyo, menyebut keberhasilan tersebut sebagai hasil pembinaan terarah dan berkelanjutan di tubuh Polri.
“Dalam waktu kurang dari sepekan, Polri membuktikan personelnya mampu berprestasi di level internasional. Setelah juara umum taekwondo di Jepang, kini kembali mengharumkan nama bangsa di Belgia,” ujar Komjen Dedi.
Ia menambahkan, pembentukan Komite Olahraga Polri sejak 2024 menjadi fondasi penting dalam sistem pembinaan atlet sekaligus menjamin keberlanjutan prestasi.
Sebelumnya, atlet Polri juga sukses menjadi juara umum pada The 22nd WATA Open International Taekwondo Championship 2026 di Osaka, Jepang.
Peran Polri dalam kesuksesan ini juga terlihat dari posisi Wakabareskrim Polri Irjen Pol Nunung Syaifuddin sebagai manajer tim nasional. Di bawah koordinasinya, pembinaan atlet dinilai semakin profesional dan kompetitif.
“Ini bukti kualitas dan mental juara atlet Indonesia di level dunia,” kata Nunung.
Prestasi di Belgia menjadi modal penting menghadapi SEA Games 2027 di Malaysia. Dengan tren positif ini, Timnas Pencak Silat diyakini mampu mempertahankan tradisi juara.
Keberhasilan tersebut diharapkan menjadi pemantik semangat generasi muda untuk terus berprestasi sekaligus menjunjung tinggi nilai sportivitas dan budaya bangsa.
BERITA TERKAIT: