Pengunjuk rasa juga menunjukkan dukungan bagi para mahasiswa yang telah menduduki gedung parlemen Taiwan sejak dua pekan terakhir untuk menyuarakan hal serupa.
Mereka menilai bahwa kesepakatan dagang yang dibuat dengan China pertengahan tahun lalu dapat merusak demokrasi dan membuat ekonomi Taiwan terlalu bergantung pada China.
Pasalnya kesepakatan dagang itu memberikan peluang besar bagi China untuk menanamkan investasi di Taiwan. Sehingga dinilai dapat memberikan dampak negatif bagi usaha kecil serta mengurangi lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal.
Akan tetapi, Presiden Taiwan Ma Ying-jeou tetap menegaskan bahwa kesepakatan tersebut tidak dapat dibatalkan karena dapat membawa manfaat ekonomi karena memberikan akses lebih besar bagi perusahaan Taiwan untuk masuk pasar China . Ia juga menyebut bahwa kesepakatan itu tidak bisa dibatalkan.
Keputusan Presiden Ma itu didukung oleh kelompok bisnis Taiwan.
Kesepakatan dagang itu sendiri belum diratifikasi oleh parlemen Taiwan.
Selain menuntut dibatalkannya kesepakatan dagang tersebut, pengunjuk rasa juga menuntut agar pemerintah meloloskan undang-undang mengenai adanya pengawasan bagi seluruh kesepakatan serta perjanjian yang dibuat dengan China ke depannya, seperti dilansir
BBC.
[mel]
BERITA TERKAIT: