Keputusan itu langsung memicu spekulasi bahwa ia akan membentuk partai politik baru serta ikut dalam pemilihan parlemen dini.
Dalam pidatonya, Radev mengkritik keras kondisi politik Bulgaria. Ia menyebut negara itu dikuasai oleh model pemerintahan yang kejam dan oligarki, yang menurutnya telah membuat rakyat kecewa dan kehilangan kepercayaan.
“Warga Bulgaria telah berhenti memilih dan tidak lagi mempercayai media serta sistem peradilan,” kata Radev, seperti dimuat
RFERL.
Pengunduran diri Radev terjadi di tengah ketidakstabilan politik yang berkepanjangan. Jatuhnya pemerintahan koalisi terbaru membuat Bulgaria bersiap menghadapi pemilihan parlemen kedelapan dalam empat tahun terakhir.
Bulgaria sebelumnya diguncang gelombang protes besar pada akhir tahun lalu. Protes itu bermula dari penolakan terhadap rancangan anggaran 2026, lalu berkembang menjadi kemarahan terhadap korupsi dan pengelolaan ekonomi yang buruk.
Tekanan publik akhirnya membuat pemerintah mundur pada 11 Desember.
Meski tidak secara terbuka menyatakan akan terjun ke politik praktis, Radev dalam beberapa bulan terakhir memberi isyarat kemungkinan membentuk gerakan politik baru. Ia mengatakan bahwa banyak orang menginginkannya.
Setelah Radev mundur dari jabatan presiden yang bersifat seremonial, Wakil Presiden Iliana Yotova diperkirakan akan menjabat sebagai kepala negara sementara hingga masa jabatan presiden berakhir akhir tahun ini.
BERITA TERKAIT: