Begitu laporan yang muncul beberapa jam sebelum Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry datang ke Israel untuk melakukan pembicaraan tingkat tinggi terkait perundingan damai yang tengah berlangsung antara Israel dan Palestina pada hari Selasa (5/11). Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Israel telah membuat pengajuan batas wilayah tersebut.
Sejak pembicaraan damai kembali digelar pada bulan Juli lalu, Palestina berulang kali menekankan tuntutan atas kejelasan batas wilayah dengan Israel. Palestina bersikukuh bahwa batas wilayahnya adalah yang membentang sebelum terjadinya Perang Enam Hari pada tahun 1967, ketika Israel belum menduduki wilayah Gaza, Tepi Barat, dan Jerussalem Timur.
Akan tetapi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, seperti disebut dalam laporan tersebut menolak tuntutan Palestina tersebut dengan dalih bahwa telah banyak perubahan demografik yang terjadi selama 46 tahun, terutama karena telah banyak pembangunan pemukiman Yahudi.
"Posisi pembukaan Israel adalah mengenai batas yang mengikuti dinding pemisah, dan bukan garis batas 1967 sebagaimana tuntutan Palestina," kata laporan dari surat kabar Yediot Aharonot yang dikutip oleh
Al Jazeera.
Dinding pembatas pertama kali dibangun oleh Israel pada tahun 2002 ketika terjadi peningkatan perlawanan atau intifada dari masyarakat Palestina. Sekalipun pembangunannya dipermasalahkan karena mengambil wilayah Palestina, namun Israel tetap membangunya dengan dalih melindungi wilayahnya dari berbagai serangan Palestina.
Sementara bagi Palestina, dinding tersebut dianggap sebagai 'apartheid wall' atau dinding pemisah dan juga perebutan wilayah. Belum ada konfirmasi lebih lanjut yang resmi dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas hal tersebut.
Namun, mantan Perdana Menteri Israel, Ariel Sharon yang mengawasi pembangunan awal dinding tersebut menegaskan bahwa dinding tidak dibangun untuk membagi wilayah Palestina, melainkan hanya dinding pelindung dari serangan.
[wid]
BERITA TERKAIT: